PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Indonesia terus mengukuhkan posisinya sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia, dengan areal perkebunan mencapai 16,38 juta hektare yang menghasilkan 52,76 juta ton minyak sawit pada 2025. Menurut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrahman, strategi peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk mempertahankan pangsa pasar global yang kini mencapai 58 persen dari produksi minyak sawit dunia.

Minyak sawit menjadi minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Untuk tetap menjadi produsen dan supplier terbesar di tengah kebutuhan global yang terus meningkat, Indonesia perlu menambah produksi hingga 2,5 juta ton setiap tahun. Strategi berkelanjutan menjadi pilihan mutlak dalam rangka menjawab tantangan ini.

Salah satu langkah penting adalah penerapan kultur teknis melalui sistem good agriculture practices (GAP). Eddy menjelaskan, GAP merupakan sertifikasi yang memastikan praktik budidaya ramah lingkungan, berkelanjutan, dan menghasilkan produk sawit berkualitas tinggi. Penerapan GAP di perkebunan bertujuan untuk mengurangi risiko kontaminasi dan menjaga kualitas tandan buah segar (TBS) selama proses budidaya, panen, hingga distribusi.

Selain kultur teknis, Eddy menyoroti pentingnya strategi replanting yang menggunakan bibit unggul. Replanting tidak hanya meningkatkan produktivitas per hektare secara signifikan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi baru.

“Program replanting didukung penuh oleh BPDP melalui dana bantuan senilai Rp30 juta per hektare untuk pekebun rakyat,” ujar Eddy dalam rilisnya pada Rabu, 26 Maret 2025.

--page

Lebih lanjut, Eddy menekankan bahwa kebijakan replanting menjadi prioritas untuk perkebunan sawit rakyat, yang umumnya memiliki tingkat produktivitas lebih rendah. Program ini dirancang untuk tidak hanya mengganti tanaman sawit dengan varietas unggul, tetapi juga melibatkan pembenahan tata kelola, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan organisasi dan kelembagaan sawit rakyat.

Eddy juga menjelaskan adanya tiga skema pembiayaan dalam program replanting, yang melibatkan kombinasi dana BPDP, tabungan pekebun, dan kredit usaha rakyat (KUR). Hal ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas kepada pekebun dalam membiayai penanaman kembali dan meningkatkan produktivitas kebun.

Di sisi lain, pembenahan tata kelola pabrik kelapa sawit (PKS) menjadi langkah strategis yang tidak kalah penting. Pemisahan minyak sawit untuk kebutuhan pangan (food grade) dan non-pangan seperti biofuel, dinilai mampu meningkatkan nilai tambah dan kualitas produk sawit.

“Separasi PKS merupakan upaya untuk mengakomodir berbagai kualitas minyak sawit dari seluruh jenis perkebunan,” jelas Eddy.

Dengan berbagai strategi tersebut, Eddy optimis bahwa industri sawit Indonesia tidak hanya akan memperkuat posisi sebagai produsen terbesar dunia, tetapi juga menjadi contoh dalam keberlanjutan industri minyak nabati global. (TESTI PRISCILLA/Y)