BORNEONEWS, Palangka Raya - Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai puncaknya pada Sabtu, 29 Maret 2025, saat umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian.
Pada hari tersebut, ungkap Ketua PHDI Kalimantan Tengah, I Wayan Suaka, umat Hindu melaksanakan empat pantangan utama sebagai bentuk perenungan dan refleksi spiritual, yaitu:
1. Amati Geni – Tidak menyalakan api atau lampu, melambangkan pengendalian hawa nafsu.
2. Amati Karya – Tidak melakukan aktivitas atau pekerjaan, sebagai wujud melepaskan kesibukan duniawi.
3. Amati Lelungan – Tidak bepergian, mencerminkan fokus pada introspeksi diri.
4. Amati Lelanguan – Tidak menikmati hiburan atau kesenangan, sebagai bentuk disiplin diri.
"Puncak perayaan ini menjadi momen sakral bagi umat Hindu untuk berdiam diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta merefleksikan nilai-nilai kehidupan, dengan harapan menciptakan keseimbangan spiritual dan harmoni sosial," kata I Wayan Suaka, Kamis, 27 Maret 2025.
Katanya, melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu menjalani hari suci ini dalam keheningan untuk mencapai keseimbangan spiritual, memperbaiki hubungan dengan sesama, alam, dan Tuhan.
"Keheningan selama Nyepi mencerminkan upaya kembali pada kesucian batin dan harmoni dengan alam semesta. Dalam suasana hening ini, umat Hindu memanfaatkan waktu untuk memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan Tuhan," bebernya.
Dalam keheningan sebagai bentuk perenungan dan introspeksi diri melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian, umat Hindu katanya mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan untuk mencapai keseimbangan spiritual. (MARINI/H)









