BORNEONEWS, Sampit - Penyedia jasa angkutan sungai taxi Sampit-Pagatan diimbau tidak melebihi kapasitas muatan guna mencegah risiko kecelakaan, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran 2025.
"Kita ketahui dalam setahun terakhir, telah terjadi dua insiden tabrakan di perairan Kecamatan Pulau Hanaut, tepatnya di Sungai Hantipan," kata Camat Pulau Hanaut Dedi Purwanto, Jumat, 28 Maret 2025.
Menurut Dedi, kecelakaan ini kerap terjadi setiap tahun, terutama saat arus mudik. Ia juga mengaku kesulitan memberikan imbauan karena tidak ada terminal atau tempat transit resmi di wilayahnya.
"Mereka berangkat dari dekat Masjid Jami di Sampit dan hanya melintas di Sungai Hantipan. Kami harap instansi terkait dapat memberikan arahan lebih lanjut, terutama terkait kapasitas muatan yang sering kali berlebihan, baik untuk barang maupun penumpang," ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Rody Kamislam menjelaskan, Sungai Hantipan membelah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dan Katingan, yang masuk dalam kewenangan Provinsi Kalimantan Tengah.
Pihaknya telah berdiskusi dengan anggota DPRD Dapil Kotim-Seruyan untuk mengusulkan pengerukan sungai karena seringkali dangkal saat musim kemarau. Pengerukan tersebut juga salah satu upaya mengurangi risiko kecelakaan.
"Saat kemarau, kedalaman sungai berkurang dan menjadi sangat berbahaya bagi angkutan sungai, apalagi saat arus mudik dan balik yang meningkat tajam. Kami sudah mengusulkan pengerukan ini ke Dinas PUPR Kalteng agar segera ditangani," ujar Rody.
Selain pengerukan, Dishub juga telah mengeluarkan imbauan keselamatan bagi operator angkutan sungai. Bahkan imbauan tersebut ia keluarkan sejak musim libur Natal dan Tahun Baru.
Pihaknya juga mengusulkan anggaran untuk pemasangan rambu-rambu dan lampu navigasi dalam rencana anggaran 2026 ke Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
"Masyarakat kita yang menggunakan jalur ini adalah masyarakat Katingan dan kabupaten Kotawaringin Timur. Kalau kita melihat arus mudik dan baliknya kurang lebih ada 50 taxi sungai per hari. Memang kalau ini tidak dilakukan pelebaran atau pengerukan sangat mengkhawatirkan," tandas Rody. (DEWI PATMALASARI/H)









