PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrahman, menekankan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki potensi besar dalam menghasilkan biofuel generasi ketiga. Menurut Eddy, dalam proses pengolahan sawit, sekitar 60-70 persen bahan baku menjadi limbah, terutama limbah cair POME (palm oil mill effluent). Limbah ini, yang menjadi jenis limbah terbesar pada industri sawit, dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan biofuel dengan cara yang berkelanjutan.

"Limbah POME kaya akan kandungan yang mendukung pertumbuhan alga. Alga ini adalah bahan utama biofuel generasi ketiga, yang memiliki tingkat efisiensi energi tinggi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya," kata Eddy dalam rilisnya pada Sabtu, 29 Maret 2025,

Data dari studi menunjukkan, pemanfaatan POME sebagai media kultivasi alga tidak hanya mendukung pertumbuhan alga, tetapi juga mengurangi BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical oxygen demand) dalam limbah tersebut.

Lebih lanjut, Eddy menyebutkan penelitian Sukumaran tahun 2014, yang menegaskan bahwa Indonesia memiliki pasokan POME yang melimpah, menjadikannya pilihan yang ekonomis dan mudah untuk dikembangkan. Namun, agar pertumbuhan alga optimal, perlu dilakukan pengaturan tertentu seperti perbandingan volume antara POME dan alga 1:3 dengan tambahan nutrisi berupa NaHCO3 dan urea.

Direktur Utama BPDP tersebut juga memaparkan integrasi metode pengolahan anaerobik pada POME untuk menurunkan kadar COD dan BOD sekaligus menghasilkan metana. Limbah ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai media alga. Eddy menyebutkan metode mixotrophic condition sebagai salah satu inovasi terbaru dalam memanfaatkan POME untuk biofuel.

Menurut penelitian Chisti (2007), alga menghasilkan minyak dengan yield terbesar, yaitu 136.900 liter per dua hektare lahan. Eddy optimis bahwa produksi alga sebagai biofuel memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Produksi alga relatif cepat, bahkan biomassanya bisa meningkat dua kali lipat dalam 24 jam," tambahnya.

Di tingkat industri, pemanenan biomassa alga terbaik dapat menghasilkan hingga 5 gram bahan kering per liter, dengan hasil minyak yang bervariasi tergantung metode ekstraksi. Eddy juga menyebutkan beberapa metode efisien seperti pelarut kimia dan supercritical fluid extraction, yang mampu menghasilkan minyak dengan efisiensi hingga 100 persen.

Eddy menutup dengan pernyataan bahwa pemanfaatan alga sebagai biofuel generasi ketiga dari limbah sawit tidak hanya mendukung penghematan devisa, tetapi juga membantu Indonesia menuju ketahanan energi yang berkelanjutan.

"Perkebunan sawit bukan hanya penghasil minyak mentah, tetapi juga solusi untuk energi masa depan," tegasnya. (TESTI PRISCILLA/j)