BORNEONEWS, Sampit – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotawaringin Timur (Kotim) Kiyai Achmad Robita mengatakan, Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi harus menjadi syiar dan bentuk ekspresi syukur atas anugerah Allah SWT.
"Allah telah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadan, dan kini kita bersyukur atas nikmat kemenangan dalam nuansa fitri yang suci. Idulfitri juga menjadi momentum penyemangat bagi kita untuk terus berikhtiar mencapai kesempurnaan spiritual," kata Kiyai Achmad Robita, Minggu, 30 Maret 2025.
Menurut Kiyai Achmad Robita, dalam perspektif Nahdlatul Ulama (NU), kemenangan di Hari Raya bukan sekadar merayakan berakhirnya puasa, tetapi kemenangan dalam jihad melawan hawa nafsu. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW setelah Perang Badar bahwa kita telah kembali dari perang yang kecil menuju perang yang besar.
Perang besar yang dimaksud, kata Robita, adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Ini adalah ujian sepanjang hidup yang harus terus diperjuangkan oleh setiap Muslim.
"Puasa adalah ajang penggemblengan diri untuk menaklukkan hawa nafsu. Orang yang berpuasa dengan penuh kesungguhan berarti telah memenangkan jihad ini, sementara mereka yang tidak berpuasa tidak dapat dikatakan meraih kemenangan sejati," ujarnya.
Puasa, dalam konteks peningkatan iman dan takwa, merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah SWT. Menurut Kiyai Achmad Robita, ketakwaan seseorang tidak hanya diukur selama Ramadan, tetapi harus berlanjut sepanjang tahun.
"Hakikatnya, orang yang bertakwa adalah mereka yang berpuasa dari segala larangan Allah dan menahan diri dari membangkang terhadap perintah-Nya, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu dan di mana pun kita berada," tambahnya.
Ia mengibaratkan Ramadan sebagai kawah candradimuka, tempat penggemblengan spiritual yang bertujuan melahirkan insan bertakwa. Keberhasilan Ramadan bukan hanya diukur dari ibadah selama bulan suci, tetapi dari karakter seseorang setelahnya.
"Para ulama mengatakan, di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah lahirnya kebaikan-kebaikan setelahnya. Artinya jika seseorang bisa konsisten dalam amal saleh yang dijalankan selama Ramadan, maka ia telah meraih kemenangan sejati," katanya.
Ia berharap agar umat Islam dapat menjadikan Ramadan sebagai batu loncatan untuk terus meningkatkan ibadah dan menjaga nilai-nilai kebaikan sepanjang waktu.
"Dengan begitu, kemenangan Idulfitri tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi kemenangan sejati dalam kehidupan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









