SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan akan menyerap jagung pipilan kering dari petani sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yaitu Rp5.500 per kilogram.

“Bulog Kotim siap menyerap jagung pipilan kering dari petani dengan kadar air maksimal 14 persen, sesuai dengan ketentuan Badan Pangan Nasional. Harga yang kami bayar mengikuti HPP, yakni Rp5.500 per kilogram. Ini bentuk komitmen kami dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan hasil panen petani terserap optimal,” kata Pimpinan Bulog KC Kotim, Muhammad Azwar Fuad, Senin, 7 April 2025.

Bulog telah melakukan pembelian perdana di wilayah Parenggean mencapai 1,2 ton. Dalam waktu dekat, Bulog juga akan menyerap hasil panen dari wilayah Pal 6 yang saat ini sedang dalam proses pengeringan.

“Jagung yang kami serap akan menjadi bagian dari cadangan jagung pemerintah (CJP). Untuk penyalurannya nanti, kami menunggu instruksi dari Badan Pangan Nasional. Jika kapasitas gudang penuh, kami sudah siapkan solusi dengan menyewa gudang tambahan agar seluruh hasil panen bisa ditampung,” ujarnya.

Azwar menambahkan, secara ideal penyerapan jagung memang seharusnya dilakukan oleh industri pakan. Namun, selama belum ada industri yang aktif menyerap, Bulog akan menjadi stand by buyer.

Di Parenggean sendiri, rencananya akan ada perusahaan pakan ternak yang segera beroperasi sehingga ke depan petani punya lebih banyak opsi pemasaran.

Bulog Kotim juga mendorong peningkatan nilai tambah hasil panen dengan mengolah jagung pipilan menjadi beras jagung.

“Kami sedang berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mendorong bantuan mesin pengolah jagung menjadi beras jagung. Jika dijual dalam bentuk beras jagung, harganya bisa mencapai Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp5.500 dalam bentuk pipilan,” tandasnya.

Dengan kebijakan ini, Bulog Kotim berharap tak ada lagi jagung petani yang tidak terserap. Selain menjaga stok pangan nasional, langkah ini juga menjadi bentuk nyata keberpihakan kepada petani dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. (DEWI PATMALASARI/R)