BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok kesehatan di Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 1,92 persen pada Maret 2025.
Indeks harga konsumen pada kelompok ini meningkat dari 102,36 pada Maret 2024 menjadi 104,33 pada periode yang sama di tahun berikutnya.
Data tersebut menunjukkan adanya tekanan inflasi yang merata pada seluruh subkelompok dalam kelompok ini.
Subkelompok "jasa kesehatan lainnya" tercatat sebagai penyumbang inflasi y-on-y tertinggi, dengan kenaikan signifikan sebesar 10,29 persen.
"Kondisi ini menunjukkan adanya kenaikan tarif jasa tertentu yang signifikan, yang turut mendorong peningkatan inflasi di kelompok kesehatan secara keseluruhan," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalteng, Agnes Widiastuti menyampaikan berita resmi statistik pada Selasa, 8 April 2025.
Dari sisi kontribusi terhadap inflasi y-on-y, kelompok kesehatan memberikan andil sebesar 0,04 persen pada Maret 2025.
Beberapa komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi ini meliputi tarif rumah sakit yang memberikan sumbangan sebesar 0,02 persen. Selain itu, tarif check-up dan tarif bidan masing-masing menyumbang sebesar 0,01 persen.
Namun demikian, ketika dilihat dari perspektif bulanan atau month-to-month, kelompok kesehatan tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi pada Maret 2025.
Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di kelompok ini lebih banyak dipengaruhi oleh tren tahunan daripada perubahan jangka pendek.
"Inflasi pada kelompok ini juga menjadi indikator penting dalam memantau dinamika harga di sektor kesehatan. Dengan terus memantau perkembangan ini, masyarakat diharapkan bisa lebih memahami pengaruhnya terhadap pengeluaran dan membuat keputusan ekonomi yang lebih bijak," jelasnya.(TESTI PRISCILLA/R)









