BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus melakukan berbagai langkah strategis guna mengendalikan laju inflasi di wilayahnya. Salah satu inisiatif yang kini digalakkan adalah gerakan tanam cabai, yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menekan fluktuasi harga komoditas tersebut.
Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah, Yuas Elko, menjelaskan bahwa gerakan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap lonjakan harga cabai yang kerap terjadi di pasar. Menurutnya, harga cabai yang mudah berfluktuasi menjadi salah satu faktor penyumbang inflasi, sehingga diperlukan langkah konkret untuk mengatasinya.
"Sebagaimana kita ketahui, harga cabai ini gampang berfluktuasi," ujar Yuas Elko saat menghadiri penyampaian berita resmi statistik oleh BPS Kalteng kemarin.
Ia menambahkan bahwa dengan membagikan bibit cabai kepada masyarakat, pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga.
Lebih lanjut, Yuas Elko menyampaikan bahwa program ini tidak hanya bertujuan untuk menstabilkan harga, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.
--page
"Dengan menanam cabai sendiri, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kenaikan harga yang terjadi sewaktu-waktu," tuturnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berharap langkah ini dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan di daerah. Selain itu, inisiatif ini juga menjadi wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan di tingkat lokal.
Sementara itu Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa inflasi bulanan di Kalimantan Tengah dipengaruhi oleh sejumlah komoditas yang mencatatkan kenaikan harga. Tarif listrik menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 1,30 persen terhadap inflasi.
"Selain itu, cabai rawit memberikan kontribusi sebesar 0,15 persen, diikuti oleh bawang merah dengan andil 0,08 persen," tutur Agnes pada kesempatan yang sama.
Komoditas pangan seperti cabai rawit dan bawang merah mencerminkan tantangan dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di wilayah ini.
"Perubahan harga pada komoditas ini sering kali dipengaruhi oleh faktor cuaca dan distribusi. Sementara itu, kenaikan tarif listrik yang signifikan menggarisbawahi pentingnya pemantauan kebijakan harga energi," terang Agnes. (TESTI PRISCILLA/Y)









