PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada bulan Maret 2025, Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan atau NTNP di Kalimantan Tengah mengalami penurunan sebesar 0,88 persen. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebutkan bahwa penurunan ini berkaitan erat dengan ketimpangan kenaikan indeks harga yang diterima nelayan/pembudidaya atau It dan indeks harga yang dibayar nelayan/pembudidaya atau Ib pada subsektor perikanan.

"It subsektor perikanan hanya mengalami kenaikan sebesar 0,24 persen, sementara Ib subsektor perikanan meningkat lebih tinggi, mencapai 1,12 persen. Perbedaan ini tentu menjadi salah satu faktor utama penyebab penurunan NTNP," jelas Agnes Widiastuti pada Jumat, 11 April 2025.

Kenaikan It subsektor perikanan tersebut didorong oleh peningkatan harga hasil produksi pada kelompok perikanan budidaya. Agnes mencatat bahwa indeks harga hasil produksi perikanan budidaya mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,86 persen. Namun, dampak positif ini tidak cukup untuk menutupi tingginya kenaikan biaya yang harus dibayar nelayan dan pembudidaya.

"Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok serta biaya produksi menjadi tantangan besar bagi para nelayan dan pembudidaya. Meskipun harga hasil produksi meningkat, pengeluaran mereka juga naik dengan pesat," tambah Agnes.

Penurunan NTNP ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang lebih berpihak kepada nelayan dan pembudidaya ikan. Agnes menegaskan perlunya dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi atau kebijakan lain yang dapat menekan kenaikan Ib subsektor perikanan.

Dengan demikian, pengelolaan sektor perikanan yang lebih baik diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan pembudidaya ikan, sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan yang lebih signifikan dari hasil kerja keras mereka. (TESTI PRISCILLA/j)