PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Nelayan atau NTN di Kalimantan Tengah mengalami penurunan sebesar 1,17 persen pada Maret 2025. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan NTN disebabkan oleh beberapa faktor terkait fluktuasi indeks harga yang diterima dan dibayar oleh nelayan.

"Indeks Harga yang diterima atau It menurun sebesar 0,14 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar atau Ib justru meningkat sebesar 1,05 persen," papar Agnes pada Jumat, 11 April 2025.

Agnes merinci bahwa penurunan It terjadi karena turunnya indeks harga produksi pada dua kelompok utama. Kelompok penangkapan perairan umum, yang mencakup komoditas seperti gabus atau haruan dan toman, mengalami penurunan sebesar 0,05 persen. Kelompok penangkapan laut juga menunjukkan penurunan signifikan pada komoditas seperti udang laut, yaitu sebesar 0,23 persen.

"Di sisi lain, kenaikan Ib sebesar 1,05 persen dipengaruhi oleh peningkatan pada dua indeks penyusunnya," katanya.

Agnes menyebut bahwa kelompok Konsumsi Rumah Tangga atau KRT mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,52 persen. Selain itu, kelompok Barang dan Jasa untuk Produksi atau BPPBM turut naik sebesar 0,10 persen.

"Hal ini menunjukkan adanya kenaikan biaya konsumsi rumah tangga serta kebutuhan produksi yang harus ditanggung oleh nelayan," tambahnya.

Penurunan NTN tersebut menggambarkan dinamika ekonomi yang menjadi tantangan bagi nelayan di Kalimantan Tengah. Penurunan It mencerminkan menurunnya nilai hasil produksi nelayan, sedangkan kenaikan Ib mengindikasikan meningkatnya beban biaya yang mereka tanggung.

"Ini menuntut perhatian lebih dari semua pihak untuk membantu nelayan menghadapi situasi ekonomi yang sulit," imbuh Agnes.

Agnes menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung kesejahteraan nelayan di tengah situasi ini. Ia menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan solusi seperti subsidi harga, program peningkatan efisiensi produksi, serta akses yang lebih baik ke pasar untuk hasil tangkapan nelayan.

"Keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran sangat penting untuk memastikan keberlanjutan ekonomi nelayan," ujarnya.

Pemerintah daerah dan organisasi masyarakat di Kalimantan Tengah diharapkan dapat berkolaborasi dalam merumuskan solusi jangka panjang. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan, yang merupakan salah satu pilar ekonomi daerah dan nasional. Dengan penurunan NTN ini, perhatian dan aksi nyata dari berbagai pihak menjadi sangat dibutuhkan. (TESTI PRISCILLA/j)