SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Geliat perkebunan karet di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin redup di tengah dominasi industri kelapa sawit. Sektor yang dulu menjadi andalan ekonomi masyarakat kini berada di ambang kehancuran, tergeser oleh derasnya arus peralihan lahan ke sawit.

“Harga karet sekarang cuma Rp10 ribu per kilo, sementara harga beras sudah Rp14 ribu. Gimana petani bisa hidup. Bukan hanya harga yang menurun, tetapi juga minat dan tenaga untuk menyadap karet sudah terkikis oleh kenyataan ekonomi," kata tokoh masyarakat Desa Terantang, Abdul Kadir, Sabtu, 12 April 2025.

Lanjutnya, karet menuntut kerja keras disadap setiap hari, namun hasilnya tak seberapa. Sementara sawit menawarkan kemudahan dengan panen dua minggu sekali dan penghasilan yang lebih stabil. Tak heran, banyak petani yang mengalihkan lahannya ke sawit demi kelangsungan hidup.

Namun, perubahan ini berdampak besar. Produksi karet Kotim turun drastis. Bahkan PT Sampit International, pabrik karet legendaris yang berdiri sejak 1955, kini terpuruk akibat berbagai masalah internal seperti keterlambatan gaji dan penurunan aktivitas produksi. Pabrik yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kini seakan dilupakan.

Abdul Kadir berharap ada solusi nyata dari pemerintah, baik berupa subsidi harga, pelatihan bagi petani, hingga program revitalisasi industri karet. 

“Jangan semua kebun karet dibuang. Siapa tahu suatu saat karet bisa kembali berjaya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans Kotim Johny Tangkere menyatakan keprihatinannya atas kondisi PT Sampit dan masa depan industri karet secara umum.

“Kalau bisa, perusahaan ini jangan sampai tutup. Kita butuh industri lokal yang menyerap tenaga kerja dan menampung hasil petani,” katanya. (DEWI PATMALASARI/j)