BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebahagian Patmi, 50, dan Mufarrohah, 10, tidak mampu dibendung. Beban berat yang biasa tampak jelas pada raut wajah ibu dan anak itu seketika berubah sumringah ketika mendapat bantuan dari PT Citra Borneo Indah (CBI) Group.
Disaksikan sejumlah tetangga, Koordinator Corporate Social Responsibility (CSR) Kharis Nuryanto menyampaikan tali asih dari PT CBI Group kepada keduanya di rumah kayu sederhana yang catnya sudah mulai kusam itu.
Bantuan yang disampaikan, sebut Kharis, merupakan respon dari owner PT CBI Group Abdul Rasyid AS. Pengusaha nasional asal Pangkalan Bun itu merasa terusik saat membaca artikel di Borneonews, Kamis (6/10/2016).
"Beliau (Abdul Rasyid AS) merasa terusik karena di tengah kemajuan Kabupaten Kobar saat ini, masih ada warga yang mengalami kesulitan bersekolah dan menjalani hidup," beber Kharis saat memberikan bantuan kepada warga Jalan Merpati, Kelurahan Sidorejo.
Bahkan, Mufarrohah yang putus sekolah sejak kelas V sekolah dasar itu akan disekolahkan hingga jenjang perguruan tinggi. "Bantuan ini sekiranya digunakan dulu untuk membeli seragam, sepatu dan tambahan modal jualan," ucap Kharis kepada Patmi dan Mufarrohah.
Usai menyampaikan bantuan, Kharis mengatakan, bulan depan pihaknya akan kembali ke rumah Patmi dan Mufarrohah untuk melihat perkembanganya. Jika mengalami kendala atau apapun, Ia berharap keduanya dapat menyampaikan kepadanya.
"Saya akan ke sini lagi bulan depan, Mufarrohah harus sekolah. Jangan disuruh jualan lagi," kata Kharis kepada Patmi.
Tidak banyak kata yang keluar dari mulut keduanya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Patmi berkali-kali mengucapkan terimaksih kepada Abdul Rasyid AS dan semua pihak yang telah membantunya. Bahkan ucapan terimakasih itu terus terucap ketika Kharis mulai beranjak dari rumah itu.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak menyangka ada orang yang mau memperhatikan nasib kami," tuturnya.
Sebelumnya Patmi mengungkapkan jika anak bungsunya itu sudah lama ingin kembali ke sekolah dan belajar bersama teman-teman sebayanya. "Sudah sering Mufarrohah menyampaikanya, tetapi mau bagaimana lagi. Kami belum ada rezeki," pungkasnya.
Mufarrohah merupakan putri bungsu dari pasangan Patmi dan M Jaddal (almarhum). Dia terpaksa merasakan getirnya pengalaman hidup sepeninggal ayahnya. Ditambah lagi ibu yang dicintai itu sering sakit-sakitan.
Beban hidup Mufarrohah semakin berat ketika kakaknya mengalami gangguan kejiwaan sepulangnya dari pondok pesantren. Untuk membantu ekonomi keluarga, Mufarrohah terpaksa menjajakan kue cucur keliling.(FAHRUDDIN FITRIYA/m).








