BORNEONEWS, Sampit – DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian, khususnya di wilayah Teluk Sampit yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi daerah.
Anggota DPRD Kotim Zainudin mengatakan, saat ini mayoritas petani berusia di atas 40 tahun, sedangkan kalangan muda cenderung memilih sektor perkebunan karena dinilai lebih menguntungkan.
“Keinginan generasi muda untuk bertani sangat rendah. Mereka lebih tertarik ke sektor perkebunan karena pertanian dianggap melelahkan namun penghasilannya tidak sebanding,” kata Zainudin, Selasa, 15 April 2025.
Disebutkan, hasil pertanian padi rata-rata hanya sekitar 4 ton per hektare, atau setara Rp24 juta per musim tanam. Setelah dikurangi biaya pupuk, perawatan, dan lainnya, petani hanya memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp15 juta per tiga bulan, belum termasuk risiko gagal panen akibat serangan hama dan cuaca ekstrem.
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) III tersebut mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim untuk menyusun strategi konkret dalam menarik minat pemuda agar kembali bergelut di sektor pertanian.
--page
Apalagi saat ini pemerintah pusat tengah fokus pada program swasembada pangan nasional, yang tentunya memerlukan dukungan dari semua daerah, termasuk Kotim.
“Perlu kiat-kiat khusus untuk menumbuhkan kembali gairah bertani di kalangan generasi muda. Baik melalui pelatihan modern, insentif, maupun kemudahan akses alat dan pupuk,” tegasnya.
Lebih lanjut, dirinya menekankan pentingnya modernisasi pertanian agar anak muda tertarik dan melihat potensi pertanian sebagai sektor yang menjanjikan secara ekonomi.
“Kalau tidak segera ditangani, kita khawatir ke depan tidak ada lagi yang mau bertani. Maka, upaya membangun ketahanan pangan lokal bisa terancam,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









