SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kotawaringin Timur, Zainudin menyoroti keterbatasan layanan kesehatan di wilayah tersebut.

Ia menegaskan bahwa jumlah rumah sakit di Kotim tidak sebanding dengan jumlah penduduk, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang kerap dikeluhkan masyarakat.

Menurut Zainudin, saat ini masyarakat Kotim hanya mengandalkan satu rumah sakit, yakni RSUD dr Murjani Sampit. Hal ini dinilai tidak ideal untuk wilayah dengan jumlah penduduk lebih dari 440.000 jiwa.

"Kalau kita bicara pelayanan kesehatan, ini selalu jadi sorotan di media massa. Masyarakat hanya bergantung pada satu rumah sakit, padahal jumlah penduduk kita sangat besar," kata Zainudin, Selasa, 15 April 2025.

Ia membandingkan kondisi ini dengan Palangka Raya, yang memiliki penduduk sekitar 300.000 jiwa namun memiliki 7 rumah sakit, termasuk rumah sakit swasta dan klinik-klinik pendukung lainnya.

Minimnya fasilitas rumah sakit membuat beberapa dokter yang pernah praktik di Sampit memilih pindah ke daerah lain yang lebih banyak rumah sakit.

Ia mendengar keluhan dokter tersebut bahwa kondisi di Kotim mempersempit peluang praktik di beberapa rumah sakit seperti di Jawa.

"Di daerah lain selain ada rumah sakit daerah, banyak rumah sakit swasta berdiri. Itu membuat dokter nyaman karena bisa praktik di beberapa tempat sekaligus. Tapi di Kotim, minimnya rumah sakit membuat dokter enggan bertahan," tambahnya.

Zainudin mendorong pemerintah daerah membuka peluang bagi investor untuk membangun rumah sakit swasta di Kotim.

Menurutnya, kehadiran rumah sakit swasta tidak hanya memperluas akses layanan kesehatan, tetapi juga menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi tenaga medis.

"Kita dorong agar ada rumah sakit swasta masuk ke Kotim. Ini penting agar masyarakat punya alternatif pelayanan, dan tenaga kesehatan juga punya tempat lebih luas untuk mengabdi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)