BORNEONEWS, Sampit – Kasus video asusila yang melibatkan pelajar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sudah beberapa kali muncul dan menjadi sorotan di daerah ini. Hal itu menjadi perhatian serius DPRD setempat.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah, menekankan pentingnya terobosan dalam pendidikan moral dan keagamaan sebagai langkah pencegahan sejak dini.
"Saya melihat penting untuk memasukkan kegiatan ekstrakurikuler atau materi pembelajaran yang fokus pada akhlak dan pendidikan rohani," ujar Riskon, Rabu, 16 April 2025.
Menurut Riskon, saat ini sekolah banyak menonjolkan prestasi akademik dan non-akademik seperti olahraga dan teknologi. Namun pembinaan karakter dan rohani siswa masih terbilang minim.
Ia berharap, pendidikan moral dan keagamaan harus diperkuat melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler.
--page
"Hal ini sebagai benteng moral anak-anak dari pengaruh negatif, termasuk tindakan asusila yang marak di media sosial," tambahnya.
Sebagai salah satu langkah konkret, ia mengapresiasi uji coba kebijakan pelarangan penggunaan gadget di SMPN 2 Sampit. Kebijakan ini diharapkan bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi potensi penyalahgunaan teknologi oleh pelajar.
"Kita akan lihat evaluasinya beberapa waktu ke depan. Tapi harus dipahami, masalah tindakan asusila oleh pelajar bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan, tapi juga orang tua karena kebanyakan terjadi di luar jam pelajaran," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Irfansyah, menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada siswa, termasuk melalui kurikulum pendidikan seksual, bahaya narkoba, bullying, hingga karhutla.
"Di SD 4 Ketapang misalnya, sudah ada CSR yang masuk untuk sosialisasi kesehatan mental. Sosialisasi pendidikan reproduksi juga biasanya dilakukan, bahkan dari jenjang TK guru-guru sudah memberikan edukasi terkait bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain," kata Irfansyah.
--page
Ia juga menyadari bahwa pengaruh media sosial sangat sulit dicegah, namun pihaknya terus berupaya melalui pendekatan kolaboratif.
Sebagai terobosan, pihaknya mengumpulkan guru-guru BP dari setiap satuan pendidikan dan meminta agar mereka melakukan pembinaan jangan hanya saat ada, apalagi sudah viral seperti ini.
"Ke depan, kami juga akan bekerja sama dengan lembaga lain. Program seperti di SD 4 Ketapang cukup berhasil karena tidak hanya anak yang diedukasi, tapi juga orang tuanya," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









