SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) terus mendorong percepatan normalisasi irigasi sebagai strategi penting mendukung program ketahanan pangan nasional. 

“Kami sekarang sedang menggalakkan program ketahanan pangan sesuai instruksi Presiden, yakni agar negara kita menjadi swasembada pangan. Untuk mewujudkan itu, kita membutuhkan saluran irigasi yang baik,” ujar Halikinnor, Rabu, 16 April 2025.

Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar di rumah jabatan bupati yang dihadiri unsur OPD, Kapolres Kotim, Dandim 1015/Sampit, serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II.

Rapat koordinasi ini merupakan tindak lanjut dari rencana normalisasi saluran irigasi di Kecamatan Teluk Sampit, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Kotim. Namun, kondisi irigasi yang mengalami pendangkalan, terutama di muara sungai yang berada di kawasan hutan lindung, menjadi hambatan utama pengembangan sektor pertanian.

Menjawab persoalan tersebut, BWS Kalimantan II memberikan solusi melalui program normalisasi sungai pada dua titik di kawasan tersebut dengan alokasi anggaran sekitar Rp9 miliar.

Hal ini disambut positif oleh Pemkab Kotim, mengingat sebagian wilayah irigasi yang ditargetkan masuk dalam kawasan hutan lindung dan Area Penggunaan Lain (APL).

Halikinnor menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) agar normalisasi irigasi bisa tetap dilaksanakan di wilayah-wilayah yang secara administrasi masih terkendala status lahan.

“Kami berharap semua pihak bersinergi. Normalisasi irigasi bukan hanya menyokong ketahanan pangan, tapi juga mempermudah akses transportasi bagi masyarakat yang masih bergantung pada jalur sungai,” tandasnya.

Saat ini, Kotim tercatat sebagai kabupaten dengan luas tanam padi terbesar ketiga di Kalimantan Tengah. Dengan normalisasi irigasi yang optimal, sektor pertanian diharapkan semakin produktif dan mampu memberikan kontribusi besar terhadap swasembada pangan nasional. (DEWI PATMALASARI)