BORNEONEWS, Palangka Raya - Wira Surya Wibawa, penggiat pendidikan alternatif dan pendiri Sekolah Rakyat Merdeka Kalimantan Selatan Tengah (Kalselteng), memberikan pandangannya terkait Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah.
Ia menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah berani untuk menjangkau masyarakat terpinggirkan, menyebutnya sebagai potensi revolusi pendidikan Indonesia yang selaras dengan pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan sebagai pembebasan.
Namun, ia menekankan pentingnya pendekatan kerakyatan, partisipatif, dan humanis dalam implementasinya agar program ini benar-benar milik masyarakat, bukan sekadar proyek pemerintah.
Wira menyoroti realita pendidikan anak-anak miskin dan terpencil yang masih memprihatinkan. Mereka terhambat bukan hanya oleh ekonomi, tetapi juga oleh struktur sosial, akses geografis, dan budaya yang memandang pendidikan sebagai sesuatu yang jauh dari realitas hidup mereka.
"Saya melihat Program Sekolah Rakyat berpotensi menjawab kebutuhan dasar mereka, seperti akses gratis dan berasrama, namun perlu juga menanamkan kesadaran sosial, penguatan karakter, dan pembentukan identitas diri untuk menjadi solusi sejati," katanya, Kamis, 17 April 2025.
--page
Tantangan dalam mendampingi anak-anak di komunitas marginal, menurut Wira, meliputi keterbatasan akses dan infrastruktur, ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi negara, trauma sosial dan budaya, serta kurangnya pendamping yang memahami budaya lokal.
Ia menekankan pentingnya peran pendamping sebagai role model dan fasilitator yang dapat memulihkan kepercayaan diri anak-anak marginal.
Harapan masyarakat terhadap Program Sekolah Rakyat sangat besar, namun Wira mengingatkan pentingnya keseriusan dalam pengelolaan, pengawasan, dan evaluasi berkelanjutan untuk menghindari kekecewaan jika program ini gagal.
Wira menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan komunitas lokal, pegiat pendidikan alternatif, lembaga agama dan adat, dengan prinsip kesetaraan dan pemerintah sebagai fasilitator, bukan pengatur tunggal.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran soal keberlanjutan program ini, terutama terkait perubahan kebijakan saat pergantian rezim, ketergantungan pada APBN, dan lemahnya monitoring dan evaluasi.
Keberhasilan program ini, menurutnya, bergantung pada landasan hukum yang kuat dan komitmen lintas partai.
--page
Untuk keberhasilan Program Sekolah Rakyat, Wira merekomendasikan redefinisi filosofi pendidikan dengan menghapus praktik komersialisasi, membangun model sekolah yang kontekstual dan berbasis budaya lokal, serta melakukan kaderisasi guru berbasis panggilan jiwa dan melibatkan alumni komunitas marginal.
Ia juga menyarankan transparansi pendanaan, prioritas pada akses dan kualitas pendidikan, pembangunan fasilitas produktif di sekolah, dan keterlibatan BUMN dan sektor swasta melalui CSR yang berdampak nyata.
Wira berharap Program Sekolah Rakyat dapat menjadi gerakan pembebasan, simbol kembalinya roh pendidikan Indonesia yang memerdekakan.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai ujian, tetapi tentang membangun manusia seutuhnya yang berpikir, berdaya, dan bermartabat.
"Keberhasilannya bergantung pada perubahan cara pandang dan komitmen nyata dari semua pihak yang terlibat," pungkasnya. (PATHUR/y)









