SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dari Fraksi PDI Perjuangan, Muhammad Hafiz, menyambut positif peluang kerja sama antara Uni Eropa dan Indonesia di bidang hilirisasi sawit berbasis koperasi. Kerja sama ini diyakini bisa menjadi angin segar bagi petani sawit di daerah, khususnya di Kotim, yang memiliki lahan sawit terluas di Kalimantan Tengah.

Hal ini merujuk pada rilis dari Menteri Koperasi dan UKM RI Budi Arie Setiadi, yang menyatakan bahwa Uni Eropa bersedia menjalin kerja sama hilirisasi sawit dengan syarat mitra lokal adalah koperasi, bukan korporasi.

"Ini merupakan angin segar untuk peningkatan penghasilan para petani sawit di wilayah Kotim khususnya dan akan membuka lapangan kerja baru serta dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) karena Kotim memiliki lahan sawit terluas di Kalimantan Tengah,” kata Hafiz, Senin, 21 April 2025.

Lanjutnya, Fraksi PDIP mendorong pemerintah daerah untuk segera menindaklanjuti informasi ini dengan melakukan klarifikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat, guna memastikan peluang kerja sama tersebut bisa direalisasikan di daerah.

“Kami sarankan Pemda segera memeriksa kebenaran informasi tersebut dan berkoordinasi langsung dengan Kemenkop UKM agar Kotim bisa menjadi bagian dalam pelaksanaan kerja sama ini,” tambahnya.

--page

Menurutnya, pendekatan berbasis koperasi akan lebih berdampak langsung kepada masyarakat, khususnya petani kecil, ketimbang melalui korporasi besar yang selama ini mendominasi sektor perkebunan.

Adapun sebelumnya, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi menyatakan bahwa pemerintah akan terus mendorong hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi, seiring meningkatnya permintaan minyak sawit di Uni Eropa. Hal ini disampaikan usai pertemuannya dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi di Jakarta pada Jumat, 11 April 2025.

Pertemuan tersebut membahas potensi kerja sama dan pendanaan dari Uni Eropa untuk mendukung pengembangan koperasi dalam meningkatkan keberlanjutan dan ketertelusuran komoditas, terutama minyak sawit.

Budi Arie menyebutkan bahwa kerja sama ini membuka peluang bagi koperasi Indonesia untuk masuk pasar Eropa melalui produksi berkelanjutan. Selain sawit, koperasi juga berperan dalam hilirisasi SDA lain seperti nikel, lithium, bauksit, dan tembaga.

Lebih lanjut, Budi Arie merujuk langkah koperasi mampu mengolah bahan mentah menjadi produk berkualitas tinggi, sehingga meningkatkan nilai tambah. Artinya petani sawit tidak hanya menjual tandan buah segar (TBS), melainkan juga mendapat nilai tambah produk hasil olahan pabrik yang dikelola oleh koperasi. (DEWI PATMALASARI/Y)