SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) membuka peluang investasi di sektor peternakan buaya sebagai solusi mengatasi meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar, sekaligus sebagai potensi komoditas ekspor bernilai tinggi.

"Bupati berencana membuat Taman Satwa di Pulau Hanibung salah satunya untuk tempat buaya untuk mengurangi jumlah buaya yang ada di alam liar. Atau (bisa) juga menarik investor yang mau berternak buaya, Kenapa tidak seperti kolam bekas galian pasir itu bisa dibuat budidaya buaya," kata Pj Sekda Kotim Sanggul Lumban Gaol, Selasa, 22 April 2025.

Saat ini serangan buaya terhadap manusia di Kotim menjadi sorotan. Buaya hidup di sungai dan mungkin habitat serta makanannya sudah terganggu, sehingga ide membangun taman satwa atau menarik investor untuk peternakan buaya bisa menjadi salah satu solusi mengurangi potensi konflik buaya dengan manusia.

Ia menambahkan bekas galian pasir di beberapa wilayah dapat dimanfaatkan sebagai kolam budidaya buaya oleh investor.

Jika ada buaya liar yang tertangkap, bisa langsung dialihkan ke penangkaran untuk pembiakan, sekaligus mengurangi jumlah buaya di alam liar yang berisiko menyerang warga.

“Di sisi lain, budidaya buaya ini juga bisa menjadi potensi ekonomi, apalagi jika diarahkan untuk ekspor. Kita siap menyambut investor yang ingin masuk ke sektor ini,” tambah Sanggul.

Investasi peternakan buaya menjadi perhatian serius mengingat tingginya angka serangan buaya di wilayah Kotim.

Berdasarkan data dari BKSDA Resort Sampit, sejak 2010 telah terjadi 52 serangan buaya, dengan 8 korban meninggal dunia.

Kasus terbaru terjadi pada Jumat, 4 April 2025, di Kecamatan Pulau Hanaut, saat seorang warga diterkam buaya ketika mandi di Sungai Mentaya. Korban ditemukan meninggal dunia setelah dilakukan pencarian selama satu hari. (DEWI PATMALASARI/R)