PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat adanya penurunan aktivitas transportasi udara dan laut selama Februari 2025 dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa berbagai faktor mempengaruhi penurunan ini, termasuk kondisi ekonomi dan pola mobilitas masyarakat.

"Frekuensi penerbangan mengalami penurunan sebesar 12,74 persen, dari 1.162 penerbangan pada Januari 2025 menjadi 1.014 penerbangan pada Februari 2025," kata Agnes pada Selasa, 22 April 2025.

Sejalan dengan itu, lanjut Agnes, jumlah penumpang angkutan udara juga turun 13,29 persen, dari 119.156 orang menjadi 103.326 orang. Widiastuti menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan adanya perlambatan aktivitas perjalanan udara, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor ekonomi atau perubahan pola perjalanan masyarakat.  

Selain penumpang, lalu lintas barang yang menggunakan angkutan udara juga mengalami penurunan sebesar 15,81 persen, dari 2.460 ton menjadi 2.071 ton.

"Bandara Tjilik Riwut tetap menjadi pusat aktivitas utama, dengan 52,55 persen dari total penumpang serta 76,15 persen dari arus barang terkonsentrasi di bandara ini," ujar Widiastuti.

Sementara itu, sektor transportasi laut juga mengalami penurunan dalam beberapa indikator. Frekuensi kunjungan kapal laut di berbagai pelabuhan di Kalimantan Tengah turun sebesar 2,02 persen, dari 744 kunjungan menjadi 729 kunjungan pada Februari 2025. Penumpang angkutan laut turut mengalami penurunan sebesar 12,18 persen, dari 30.446 orang pada Januari menjadi 26.738 orang pada Februari.

"Penurunan jumlah penumpang ini menunjukkan adanya pola perjalanan yang berubah di masyarakat, mungkin karena faktor cuaca atau dinamika ekonomi," ungkap Agnes.

Namun, tidak semua aspek transportasi laut mengalami penurunan, karena lalu lintas barang justru meningkat sebesar 2,89 persen, dari 1,83 juta ton pada Januari menjadi 1,89 juta ton pada Februari 2025.

Dalam distribusi aktivitas, Pelabuhan Kumai menjadi pusat utama lalu lintas penumpang, dengan 76,98 persen dari total penumpang angkutan laut terkonsentrasi di sana.

Sementara itu, arus barang lebih banyak terkonsentrasi di Pelabuhan Sampit, yang menyumbang 56,06 persen dari total lalu lintas barang di wilayah tersebut.

Menanggapi tren ini, BPS Kalimantan Tengah akan terus memantau dinamika transportasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan aktivitas mobilitas masyarakat.

Widiastuti menegaskan bahwa data ini dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pelaku industri transportasi, untuk merancang strategi yang lebih adaptif guna mengatasi tantangan yang ada.

"Kami berharap para pemangku kepentingan dapat menggunakan data ini sebagai bahan analisis untuk perencanaan dan kebijakan ke depan, sehingga sektor transportasi tetap mampu mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang dengan optimal," pungkasnya.(TESTI PRISCILLA/R)