SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pada musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim) mulai melakukan langkah antisipatif bencana kekeringan untuk mendukung swasembada pangan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam mengatakan, pihaknya mulai menyiapkan berbagai aspek mulai dari peralatan, personel, hingga pendanaan untuk menghadapi dua bencana utama saat musim kemarau, yakni karhutla dan kekeringan.

“Kami sudah bersiap, baik dari segi peralatan, personel maupun pembiayaan. Fokus utama kami adalah penanganan karhutla dan kekeringan karena dua bencana ini sangat berkaitan dan bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan,” ujar Multazam, Kamis, 24 April 2025.

Ia menjelaskan, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan cukup panas dan berpotensi mengganggu kegiatan pertanian. Apalagi pemerintah pusat telah menetapkan masa tanam nasional, sehingga ketersediaan air menjadi faktor krusial untuk memastikan hasil panen tidak terganggu.

“Kami mengimbau semua stakeholder terkait agar waspada dan mengambil langkah strategis. Ini penting agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” katanya.

Multazam menambahkan, BPBD Kotim kini tidak hanya fokus pada penanganan karhutla seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi juga memperluas peran dalam mengantisipasi dampak kekeringan terhadap pertanian.

“Kalau dulu kami bicara karhutla saja, sekarang kami perluas cakupan ke kekeringan yang kerap melanda pertanian. Tujuannya untuk mendukung swasembada pangan dan ketahanan daerah dalam menghadapi bencana,” pungkasnya.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) H Asan Kotawaringin Timur (Kotim) memprakirakan bahwa musim kemarau 2025 akan berlangsung lebih pendek dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo menjelaskan bahwa awal musim kemarau di wilayah Kotim akan berbeda-beda berdasarkan letak geografisnya.

“Wilayah selatan Kabupaten Kotim diperkirakan memasuki musim kemarau pada Juni Dasarian II, bagian tengah di Juni Dasarian III, dan wilayah utara pada Juli Dasarian I. Sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2025,” kata Mulyono, Kamis, 24 April 2025.

Meskipun musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih singkat dari tahun 2024, Mulyono mengingatkan bahwa potensi kekeringan dan kebakaran tetap tinggi.

“Tahun ini kemarau dalam kondisi netral atau normal, namun lebih kering dibanding tahun sebelumnya yang dipengaruhi La Nina yang terjadi kemarau basah. Artinya, risiko kebakaran hutan dan lahan tahun ini justru meningkat meski kemarau lebih pendek,” ujarnya. (DEWI PATMALASARI/R)