SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Program Inklusi Sosial yang dijalankan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menuai pujian dan harapan untuk keberlanjutan serta perluasan jangkauan. 

Program yang telah berjalan sejak 2022 ini, resmi diluncurkan kembali tahun 2025 di 10 provinsi, salah satunya di Kotim, tepatnya di Desa Jaya Kelapa dan Kelurahan Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

"Kami berharap program ini tidak hanya menyentuh kaum ragam gender, tetapi juga yang lainnya seperti penyandang disabilitas, para janda tua, ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) dan lainnya," kata Pelaksana Harian Camat Mentaya Hilir Selatan, Deden Eka Rachman, Kamis, 24 April 2025.

Itu ia ungkapkan usai menghadiri Kick Off Meeting Program Inklusi Sosial PKBI Kalimantan Tengah. Ia menambahkan, program ini telah memberikan dampak positif bagi komunitas ragam gender. 

Mereka sangat terbantu karena kini bisa lebih mudah mengakses layanan publik seperti dalam hal pembuatan administrasi kependudukan, jaminan kesehatan gratis, hingga kegiatan ekonomi. 

 "Hadirnya program Inklusi Ini bisa memberikan kesetaraan gender bagi mereka dan mereka juga bisa hidup berdampingan secara layak di masyarakat, " ucapnya. 

Senada dengan Deden, Leny, salah seorang anggota komunitas ragam gender, menyampaikan bersyukur dengan adanya program tersebut. 

Mereka sangat terbantu karena Program Inklusi Sosial membuat mereka merasa dihargai, serta mendapat kemudahan dalam mengakses layanan publik, seperti warga pada umumnya tanpa ada diskriminasi.

"Saya mengusulkan programnya diperluas, termasuk di bidang pendidikan karena banyak rekan-rekan kami yang belum tamat SMA. Misalnya melalui program Paket C. Bahkan kalau bisa, fasilitasi sampai kuliah supaya nantinya kesempatan kerja bagi kami semakin terbuka," usulnya.

Program Officer Program Inklusi PKBI Kalimantan Tengah, Rushna Oktavianie, menjelaskan fokus program tahun 2025 ini pada tiga aspek pertama pemberdayaan ekonomi, pencegahan dan penanganan kekerasan, serta pencanangan wilayah rintisan inklusif di Kotim.

"Program inklusi ini program lanjutan dari tahun 2022 dengan tujuan akhir adalah agar tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam proses pembangunan dan kehidupan berbangsa dan bernegara," jelasnya.  

Program Inklusi Sosial di Kalimantan Tengah pada 2022 hingga 2024 dijalankan dalam dua pilar atau dua penerima manfaat, yakni anak yang berhadapan dengan hukum dan kelompok ragam gender.

Penerima manfaat dari kelompok anak-anak yang berhadapan dengan hukum fokusnya di Lapas Kelas 2A Palangka Raya, sedangkan penerima manfaat  kelompok ragam gender fokusnya di Kota Sampit dan Kecamatan mentai Hilir Selatan.

Untuk pendampingan anak-anak berhadapan dengan hukum kini telah bisa berjalan mandiri. Untuk itu pada 2025 ini difokuskan pada pilar kelompok ragam gender.

"Hasil evaluasi selama program berjalan tiga tahun terakhir, terlihat ada peningkatan pemberdayaan dan kemampuan kelompok ragam gender hampir dua tingkat naik. Selain itu peningkatan dari aspek akses layanan dasar, ekonomi, kemampuan dari perubahan dari perilaku serta nilai diri dan kepercayaan," tutupnya. (DEVIANA/R)