BORNEONEWS, Sampit – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat konflik antara manusia dan buaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mayoritas terjadi saat warga melakukan aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) di sungai.
“Dari data kami sejak tahun 2010 hingga 2025, tercatat 52 kasus serangan buaya, dengan delapan korban meninggal dunia. Sebanyak 41 kasus terjadi saat warga beraktivitas MCK atau berwudhu di sungai,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, Kamis, 24 April 2025.
Data ini termasuk tiga kasus serangan buaya terhadap manusia pada awal 2025. Kasus pertama terjadi di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit pada Januari lalu yang menyerang 2 warga, menyebabkan korban luka di tangan dan kaki.
Sedangkan kasus terbaru terjadi di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut pada April dan menyebabkan korban meninggal dunia.
Ia menjelaskan peningkatan serangan ini disebabkan oleh kerusakan habitat buaya, yang mengurangi ketersediaan pakan alami. Akibatnya, buaya berpindah mendekati permukiman karena terbiasa dengan aktivitas manusia di sungai.
“Ada tiga faktor utama penyebab buaya datang ke permukiman yaitu pemeliharaan ternak di sekitar sungai, pembuangan bangkai hewan ke sungai, dan pembuangan sampah rumah tangga. Ini memicu buaya untuk mencari makan di area tersebut,” ujarnya.
Dirinya mengimbau agar masyarakat tidak lagi melakukan aktivitas MCK di sungai, terutama pada malam hari. Warga juga diminta tidak membuang bangkai atau sampah ke sungai dan menghindari memelihara ternak di sekitar perairan.
“Kami pernah menangkap buaya yang masuk ke permukiman, tetapi itu tidak menyelesaikan akar masalah. Sekarang kami utamakan edukasi kepada masyarakat, karena jika perilaku tidak berubah, buaya akan terus datang,” tambahnya.
Muriansyah berharap upaya edukasi ini dapat mengurangi risiko konflik manusia-buaya dan meningkatkan keselamatan warga, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya. (DEWI PATMALASARI/R)









