BORNEONEWS, Palangka Raya - Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh seorang oknum guru agama di salah satu SMP Negeri di Palangka Raya.
Widya Kumala Wati, perwakilan Satgas PPA Kalteng, menyayangkan tindakan tersebut, mengingat seharusnya seorang tenaga pendidik menjadi contoh teladan dan mengajarkan etika serta akhlak mulia. Ironisnya, oknum guru tersebut justru diduga melakukan pelecehan seksual terhadap siswanya.
"Sangat disayangkan ketika seorang pendidik, bukannya mendidik dan menjadi contoh baik, malah menjadi pelaku," ujar wanita yang akrab di sapa Kak Yaya, Jumat, 25 April 2025.
Satgas PPA Kalteng membuka ruang bagi korban untuk mendapatkan perlindungan dan pendampingan. Namun hingga saat ini, korban belum melaporkan kejadian yang dialaminya kepada pihak PPA Kalteng.
Kak Yaya menjelaskan beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi tindakan asusila tersebut, antara lain penyalahgunaan kekuasaan, kurangnya pengawasan dan sistem pengaduan yang efektif, lingkungan pendidikan yang tidak responsif terhadap isu seksual, gangguan kepribadian atau masalah psikologis, normalisasi budaya patriarki, dan kurangnya pelatihan etika profesi bagi tenaga pendidik.
--page
Untuk mencegah kejadian serupa, Satgas PPA Kalteng merekomendasikan beberapa langkah penting. Pertama, penegakan regulasi yang kuat, termasuk penerapan tegas Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan kode etik profesi bagi tenaga pendidik.
Kedua, pendidikan dan pelatihan etika profesi yang berkelanjutan, dengan materi yang mencakup etika, batas profesional, dan pencegahan kekerasan seksual. Hal ini juga perlu diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan guru.
Ketiga, proses rekrutmen dan evaluasi kinerja tenaga pendidik harus lebih ketat. Penerapan tes psikologi dan pengecekan rekam jejak yang menyeluruh sangat diperlukan. Evaluasi kinerja rutin, termasuk masukan dari siswa, juga penting untuk mendeteksi potensi perilaku menyimpang.
Keempat, kampanye dan edukasi publik secara intensif perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mencegah kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas masyarakat, sangat krusial dalam upaya ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual.
"Pentingnya kolaborasi antara pihak sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat sangat krusial dalam melindungi anak-anak dan memastikan mereka mendapatkan hak pendidikan yang layak tanpa rasa takut dan ancaman," pungkasnya. (PATHUR/y)









