SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotawaringin Timur (Kotim) Sanggul Lumban Gaol mengutarakan kekhawatirannya terkait kekurangan tenaga bidan di sejumlah wilayah pelosok Kotim. Hal ini disebabkan banyaknya bidan yang lebih memilih untuk pindah di kawasan perkotaan.

"Di satu sisi, temuan BPK memang menunjukkan bahwa kita kekurangan bidan di daerah-daerah tertentu. Ini menjadi PR kita semua," ujar Sanggul saat membuka Musyawarah Cabang VIII Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kotim, Minggu, 27 April 2025.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah daerah berencana memberikan beasiswa kepada putra-putri lokal yang berminat menjadi bidan. Pemerintah akan membiayai pendidikan mereka, dengan harapan setelah lulus, mereka kembali mengabdi di desa asalnya.

"Ini menjadi terobosan untuk memenuhi kekurangan bidan di pelosok. Beasiswa ini sudah dianggarkan Bupati, termasuk untuk dokter. Misalnya ada anak dari desa di Tumbang Kalang mau menjadi bidan maka kita biayai paling tidak D3 atau D4. Dengan biaya dari pemerintah daerah, disertai kontrak kerja," kata Sanggul.

Sanggul juga memaparkan tantangan lain, yakni banyak orang tua yang meminta anak mereka yang ditempatkan di desa untuk dipindahkan ke kota karena kekhawatiran mereka di daerah terpencil.

--page

"Seringkali ketika anak-anak kita ditempatkan di desa, orang tuanya datang ke kami, ke Bupati, Wakil Bupati, hingga ke saya, meminta pemindahan. Sehingga bidan lebih banyak berkumpul di kota," tambahnya.

Fungsi bidan, lanjut Sanggul, sangat strategis dalam sistem kesehatan, mulai dari pendampingan ibu hamil, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak usia dini.

"Fungsi bidan sangat penting, mulai dari ibu hamil hingga anak usia 5 tahun. Saya meminta IBI Kotim bisa memberikan gagasan-gagasan, masukan-masukan kepada pemerintah daerah jadi Bupati tidak berpikir sendiri mengenai kebijakan kesehatan yang diambil di Kotim," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)