BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam ajang Teknis Kelapa Sawit atau TKS dan Field Trip yang diadakan di Sampit, Dr Ir Rawing Rambang, Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalimantan Tengah, menyampaikan urgensi program replanting kelapa sawit sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan serta energi nasional.
"Program ini tidak hanya menjadi solusi bagi peremajaan tanaman kelapa sawit, tetapi juga merupakan upaya untuk memastikan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia," kata Rawing dalam rilisnya kepada Borneonews.
Replanting kelapa sawit, menurut Rawing, adalah proses penggantian pohon tua atau tanaman yang tidak produktif dengan bibit baru yang lebih unggul. Kegiatan ini diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/Permentan/KB.330/5/2016, sebagai pedoman resmi untuk mendukung peremajaan kelapa sawit di tanah air. Rawing juga menegaskan bahwa tanaman dengan produktivitas rendah perlu segera diganti agar kebun sawit tetap dapat menghasilkan secara optimal.
Lebih lanjut, Rawing menekankan peran teknologi dalam mendukung efektivitas replanting. Adopsi teknologi pertanian presisi, seperti GPS, drone, dan sensor modern, menjadi kunci untuk mendorong produktivitas sawit yang lebih tinggi.
"Negara-negara maju telah menjadikan teknologi ini sebagai standar dalam pemupukan dan pengendalian hama, sehingga efisiensi dan akurasi dapat tercapai," kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini.
Rawing juga menyampaikan pentingnya kaitan antara replanting sawit dan ketahanan pangan nasional. Ia mengakui bahwa integrasi tanaman pangan seperti jagung di tengah proses peremajaan kelapa sawit adalah konsep yang menarik, meskipun tantangan teknis seperti tanah bekas sawit yang keras dan karakteristik budidaya jagung yang berbeda membutuhkan perhatian khusus. Konsep ini, jika berhasil, berpotensi memperkuat ketahanan pangan di Indonesia.
"Tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan, kelapa sawit juga memainkan peran penting dalam ketahanan energi nasional. Program biodiesel B40 menjadi bukti nyata peran sawit dalam mengurangi ketergantungan energi impor," tegas Dosen Universitas Kristen Palangka Raya ini lagi.
Rawing mengingatkan bahwa konsistensi kebijakan sangat diperlukan untuk mendukung investasi di sektor kelapa sawit, serta mendorong riset dan inovasi sebagai fondasi keberlanjutan.
Rawing juga menyerukan kerja sama seluruh pihak, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat, untuk menyukseskan program replanting kelapa sawit. Ia menekankan pentingnya penguatan penelitian, kebijakan yang konsisten, dan kolaborasi yang erat demi mencapai produktivitas sawit yang optimal sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.(TESTI PRISCILLA/j)









