PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat adanya penurunan signifikan pada jumlah penumpang angkutan laut di wilayah tersebut selama Februari 2025.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa jumlah penumpang angkutan laut mengalami penurunan sebesar 12,18 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Jumlah penumpang angkutan laut turun dari 30.446 orang pada Januari 2025 menjadi 26.738 orang pada Februari 2025 atau 3.708 orang,“ kata Agnes pada Senin, 28 April 2025.

Agnes menambahkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penurunan aktivitas transportasi selama bulan tersebut.

“Kami melihat adanya pola penurunan yang konsisten dalam beberapa sektor transportasi selama Februari,” jelasnya.

Selain itu, penurunan ini juga diduga terkait dengan perubahan musim dan pergeseran pola perjalanan masyarakat. Meski demikian, sektor angkutan barang justru menunjukkan peningkatan sebesar 2,89 persen pada periode yang sama. Data ini menunjukkan adanya dinamika yang menarik di sektor transportasi laut di Kalimantan Tengah.

BPS Kalimantan Tengah juga melaporkan bahwa Pelabuhan Kumai tetap menjadi pelabuhan dengan aktivitas penumpang tertinggi, menyumbang lebih dari 76 persen total aktivitas penumpang selama Februari 2025.

“Sementara itu, Pelabuhan Sampit menjadi kontributor kedua terbesar dalam layanan transportasi laut untuk penumpang,“ katanya.

Agnes menekankan pentingnya analisis mendalam terhadap data ini agar dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha transportasi dalam merancang strategi pengelolaan transportasi yang lebih baik di masa mendatang.

“Data ini bisa membantu dalam pengambilan keputusan strategis untuk mendukung kebutuhan masyarakat,” pungkas Agnes.

BPS Provinsi Kalimantan Tengah berharap laporan ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pemangku kebijakan untuk meningkatkan efisiensi layanan transportasi di provinsi ini. Penurunan jumlah penumpang angkutan laut diharapkan bisa segera diatasi melalui kolaborasi dan kebijakan yang tepat sasaran. (TESTI PRISCILLA/j)