SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dari Daerah Pemilihan (Dapil) III Zainudin meminta pemerintah daerah untuk segera memperhatikan kebutuhan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) bagi santri di Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Datul Imam di Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut.

Hal ini menyusul maraknya ancaman serangan buaya yang menghantui para santri akibat keterbatasan fasilitas.

"Buaya di sekitar Mentaya Hilir Selatan dan Pulau Hanaut sudah berkembang biak. Kami berharap pondok pesantren bisa membuat bak mandi dan fasilitas buang air besar yang aman, tidak lagi di bibir sungai atau di atas sungai," kata Zainudin, Selasa, 29 April 2025.

Ia menyadari pembuatan fasilitas MCK mungkin menjadi beban berat bagi pihak pesantren karena keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pihak pesantren membuat proposal bantuan kepada pemerintah daerah untuk pembangunan MCK yang layak.

"Kami sangat prihatin jika sampai ada santri yang menjadi korban buaya. Semoga ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah," ujarnya.

Zainudin juga mengusulkan agar pondok pesantren di sepanjang sungai segera dipagari guna mencegah santri terjun langsung ke sungai.

"Anak-anak kalau melihat sungai pasti ingin berenang. Jadi pondok harus dipagari supaya akses ke sungai bisa dibatasi. Harapan kita semoga pemerintah daerah bisa mengabulkan jika ada usulan proposalnya karena ini berkenaan dengan nyawa manusia," pungkasnya.

Sebelumnya ancaman serangan buaya di Sungai Babaung telah menjadi perhatian serius. Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Muriansyah, mengungkapkan bahwa lokasi mandi para santri sangat berbahaya, hanya berjarak 400–500 meter dari muara sungai, tempat buaya besar dari Sungai Mentaya dapat masuk.

Fasilitas MCK di pesantren tersebut juga sangat memprihatinkan. Para santri hanya memiliki satu bak mandi berukuran 5x5 meter yang kondisinya rusak, sehingga mereka terpaksa mandi langsung di sungai. (DEWI PATMALASARI/R)