BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Panitia Kegiatan Teknis Kelapa Sawit atau TKS dan Field Trip, Hendra J Purba yang dilaksanakan di Aquarius Boutique Hotel, Sampit, Kalimantan Tengah, 28-30 April 2025 menyatakan bahwa kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik maupun ekspor terus meningkat. Namun, ironisnya, produksi nasional justru menghadapi stagnasi.
Pemimpin Usaha Media Perkebunan ini mengidentifikasi sejumlah faktor yang menghambat produktivitas sawit di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah lambatnya proses peremajaan tanaman, penggunaan benih ilegal, serangan ganoderma, menurunnya efektivitas polinator Elaeidobius, serta gangguan akibat organisme pengganggu tanaman (OPT).
"Permasalahan tersebut harus segera diatasi," tegasnya. Dia menegaskan bahwa program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR merupakan kunci utama untuk memperbaiki masa depan sawit Indonesia.
"Program PSR harus terus didorong sebagai kunci memperbaiki masa depan sawit Indonesia," tegas Hendra.
Dia juga menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan benih unggul legal dan pengendalian ganoderma dengan pendekatan teknologi terkini.
Acara TKS ini juga menampilkan pameran benih unggul, pupuk, dan berbagai sarana produksi pendukung.
Pameran ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas sawit dengan memberikan akses kepada petani untuk mendapatkan sumber daya berkualitas tinggi.
Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan mereka terkait teknik dan inovasi terbaru dalam sektor sawit.
Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi antara petani, perusahaan, dan pemerintah guna mencapai produktivitas sawit yang lebih baik di masa depan.
Dengan berbagai langkah konkret yang dibahas dalam acara ini, diharapkan sektor sawit Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Semangat kerja sama dan inovasi menjadi modal utama untuk menghadapi tantangan yang ada.(TESTI PRISCILLA/R)









