SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sepnita menyatakan bahwa distribusi pupuk di wilayahnya saat ini berjalan lancar.

Kendala yang sempat terjadi terkait pergantian distributor, kini telah teratasi berkat intervensi pemerintah pusat.

"Memang ada beberapa kendala yang kita temui, tetapi sudah kita carikan solusi dan penanganannya," katanya, Selasa, 29 April 2025.

Ia mengungkapkan pihak pusat juga sudah turun tangan mengatasi kekurangan pupuk yang menjadi keluhan petani khususnya di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit, belum lama ini. Sepnita menjelaskan masalah distribusi pupuk tersebut karena adanya pergantian distributor. 

Ia mengakui adanya perbedaan antara jumlah pupuk yang diusulkan dalam Rencana Daftar Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan jumlah pupuk yang tersedia.  Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk data ganda nama petani dalam RDKK.

"Kurang jumlah dari usulan RDKK, penyebabnya ada juga yang nama double. Itu kan tidak memungkinkan. Tapi saya rasa dengan kuota yang tidak sesuai RDKK nanti tidak ada masalah, karena biasanya ada yang tidak tanam, itu masih bisa digeser-geser, relokasi masih bisa kita lakukan," jelasnya.

Belum lama ini Kepala Desa Lampuyang Muksin mengungkapkan bahwa jumlah pupuk yang diterima tahun ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Desa Lampuyang memiliki lahan sawah seluas 4.500 hektare dari total potensi lahan 8.000 hektare.  Kebutuhan pupuk pun cukup besar.  

Dalam satu hektare dibutuhkan 6 sak pupuk, berarti tiga kwintal, namun mereka hanya mendapat 10 sak dalam satu musim.

Seharusnya setiap hektare menerima 2 sak pupuk untuk dua musim tanam,  atau sekitar 2 ton per musim, namun rata-rata yang petani peroleh hanya 1 ton. 

"Sejauh ini memang kendala pupuk ini berpotensi menurunkan produktivitas. Kalau banyak kendala, hasilnya hanya 2 sampai 3,5 ton produksi padi, apalagi kalau pupuk kurang," terangnya. (DEVIANA/R)