BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai ekspor yang melalui pelabuhan-pelabuhan di wilayah Kalimantan Tengah pada Februari 2025 mencatatkan peningkatan signifikan sebesar 24,53 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa nilai ekspor meningkat dari US$56,75 juta menjadi US$70,67 juta. Peningkatan ini mencerminkan optimisme dalam perekonomian regional.
“Pelabuhan Kumai menjadi kontributor terbesar dalam kenaikan ini, dengan nilai ekspor mencapai US$10,99 juta, meningkat 22,30 persen dibandingkan Februari 2024,“ katanya.
Menyusul di belakangnya, Pelabuhan Pangkalan Bun dan Pelabuhan Pulang Pisau mencatat kontribusi masing-masing sebesar US$6,13 juta dan US$2,92 juta. Kedua pelabuhan ini bahkan tidak mencatatkan aktivitas ekspor pada periode yang sama tahun lalu.
“Namun, situasi berbeda terjadi pada ekspor yang dilayani melalui pelabuhan di provinsi lain. Nilai ekspor melalui pelabuhan-pelabuhan tersebut turun 35,58 persen, dari US$359,53 juta pada Februari 2024 menjadi US$231,87 juta pada Februari 2025,“ jelas Agnes.
Agnes menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh turunnya nilai ekspor di Pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Penurunan ekspor di Pelabuhan Banjarmasin tercatat sangat signifikan, mencapai US$123,60 juta atau turun sebesar 43,58 persen.
“Hal ini menunjukkan adanya tantangan yang perlu diatasi untuk mendukung kontribusi pelabuhan lintas provinsi dalam perdagangan luar negeri,“ katanya.
Agnes Widiastuti menambahkan bahwa keberhasilan pelabuhan-pelabuhan di Kalimantan Tengah dalam meningkatkan ekspor tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak.
“Kami melihat adanya peningkatan efisiensi dan koordinasi di pelabuhan-pelabuhan utama Kalimantan Tengah, seperti Kumai dan Pangkalan Bun. Ini merupakan langkah positif untuk terus mendorong pertumbuhan ekspor,” jelasnya. (TESTI PRISCILLA/j)









