PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Praktisi dari Perhimpunan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia atau P3PI, Marlon Sitanggang menyoroti pentingnya pembuatan teras di lahan yang tidak rata. Teras dibuat dengan backslope 10-12 derajat dan lebar 4 meter, serta harus diakhiri dengan jalan.

Dalam sesi pemaparan pada hari kedua Teknis Kelapa Sawit atau TKS dan Field Trip Sampit yang diselenggarakan GAPKI Cabang Kalteng dan Media Perkebunan pada 28-30 April 2025, Marlon menjelaskan bahwa jarak antar dinding teras minimal 7,5 meter untuk menghindari gangguan aliran air.

“Jika ada area yang tidak bisa ditanami, jangan dipaksakan karena bisa menjadi titik rawan banjir,” kata Marlon.

Ia mengingatkan agar proses replanting sawit tidak dilakukan serempak dalam satu hamparan luas. Pola tanam selang-seling perlu diterapkan agar populasi serangga penyerbuk alami, seperti Elaeidobius, dapat tetap terjaga. Ini dianggap krusial karena serangga tersebut memainkan peran penting dalam penyerbukan bunga kelapa sawit.

“Tahapan terakhir dalam proses replanting melibatkan pembuatan lubang tanam dan penanaman bibit yang dilakukan saat musim hujan. Lubang tanam perlu dipersiapkan dengan pemberian 100 gram trichoderma di dasar lubang untuk mengurangi risiko penyakit,“ katanya.

Selain itu, Marlon menyarankan penambahan NPK 15-15-6 sebanyak 200 gram di sekeliling tanaman untuk mendukung pertumbuhan bibit sawit.

Marlon berharap tahapan replanting yang ideal dapat meningkatkan produktivitas kebun sawit.

“Dengan penerapan teknik yang benar, risiko serangan penyakit, terutama Ganoderma, serta kegagalan tanam dapat ditekan secara signifikan. Hal ini penting untuk masa depan perkebunan kelapa sawit di Indonesia,“ terangnya.

Ia juga menekankan bahwa perhatian terhadap setiap tahap dalam proses replanting, mulai dari persiapan lahan hingga pola tanam, merupakan investasi jangka panjang. Kesalahan yang dilakukan pada awal proses dapat berdampak buruk terhadap produktivitas dan kualitas kebun sawit.

Marlon menutup pemaparannya dengan pesan optimis bahwa upaya replanting yang terencana dan sesuai prosedur dapat membawa masa depan yang lebih cerah bagi industri sawit. Ia mengajak seluruh praktisi untuk lebih serius dalam mempraktikkan replanting demi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit. (TESTI PRISCILLA/j)