BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, mengungkapkan bahwa hasil studi menunjukkan minyak makan merah memiliki kandungan nutrisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan minyak goreng komersial lainnya. Dalam studi tersebut, kandungan karoten, vitamin E, dan squalene pada minyak makan merah masing-masing mencapai 753 ppm, 1016 ppm, dan 348 ppm, jauh melampaui kandungan yang ada pada minyak goreng komersial dan minyak zaitun.
Menurut Eddy, minyak makan merah menjadi salah satu inovasi penting dalam industri kelapa sawit yang menawarkan manfaat kesehatan luar biasa.
"Minyak ini kaya akan fitonutrien seperti Pro Vitamin A, Vitamin E, dan Squalene yang sangat bermanfaat bagi tubuh," kata Eddy pada Rabu, 30 April 2025.
Pro Vitamin A, misalnya, berperan dalam menjaga kesehatan mata, sistem imun, dan mencegah infeksi pencernaan, sementara Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan dan mendukung perkembangan saraf. Di sisi lain, squalene memainkan peran penting dalam pembentukan kolesterol baik dan perkembangan otak.
Lebih lanjut, Eddy menekankan bahwa keunggulan minyak makan merah tidak hanya terletak pada manfaat kesehatannya, tetapi juga pada proses pengolahannya yang lebih sederhana dan hemat energi.
"Ini membuat minyak makan merah menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan minyak goreng komersial, yang sering kehilangan sebagian besar fitonutriennya dalam proses pemurnian," terangnya.
Selain manfaat kesehatan, minyak makan merah juga menawarkan dampak positif pada aspek ekonomi. Produk ini diharapkan dapat membantu stabilitas harga tandan buah segar (TBS) bagi petani koperasi dan meningkatkan daya saing di pasar internasional. Dengan demikian, minyak makan merah berpotensi memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Menurut Eddy, minyak makan merah memiliki peluang besar untuk menjadi solusi dalam mengatasi masalah stunting yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Kandungan nutrisinya yang lengkap dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya di masa emas pertumbuhan.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Eddy Abdurrahman optimis bahwa minyak makan merah dapat menjadi produk andalan yang tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi industri kelapa sawit Indonesia. (TESTI PRISCILLA/j)









