BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman mengungkapkan bahwa sejarah perkebunan kelapa sawit Indonesia dimulai sejak masa kolonial. Pada tahun 1848, empat benih kelapa sawit dibawa oleh Dr. D. T. Pryce ke Kebun Raya Bogor. Benih-benih tersebut kemudian disebarluaskan untuk ditanam sebagai tanaman hias sekaligus uji lokasi di berbagai daerah, termasuk Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Menurut Eddy, uji coba pertama dilakukan oleh Deli Maatschappij pada tahun 1878 dengan lahan seluas 0,4 hektare di distrik Deli, Sumatera Utara.
"Hasil uji coba menunjukkan produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan Afrika Barat, habitat asli kelapa sawit. Keberhasilan ini menandai dimulainya perkebunan kelapa sawit komersial oleh perusahaan Belgia pada tahun 1911 di Pulau Raja dan Sungai Liput," kata Eddy dalam rilisnya pada Rabu, 30 April 2025.
Eddy menjelaskan bahwa tahun 1911 menjadi tonggak sejarah penting dengan berdirinya perusahaan dari Belgia, Jerman, Belanda, dan Inggris yang mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Jumlah perusahaan meningkat dari 19 pada tahun 1916 menjadi 34 pada tahun 1920. Selain itu, pabrik kelapa sawit pertama di Indonesia dibangun di Sungai Liput pada tahun 1918.
"Pada masa kemerdekaan, perkebunan sawit kolonial dinasionalisasi menjadi milik pemerintah Indonesia, yang menjadi dasar pembentukan badan usaha milik negara atau BUMN," terang Eddy.
Eddy menekankan bahwa perubahan kekuasaan dan dinamika politik memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan perkebunan kelapa sawit, terutama pada era Orde Lama.
"Untuk mempercepat pengembangan, pemerintah meluncurkan program PBSN atau Penguatan Perkebunan Besar Swasta Nasional dan proyek NES/PIR atau Perkebunan Inti Rakyat," terangnya.
Eddy menjelaskan, program ini didukung oleh World Bank, ADB, KfW, dan IFAD untuk merehabilitasi kebun eksisting dan membuka perkebunan baru.
"Langkah ini menjadi katalisator perkembangan kelapa sawit di Indonesia," ujarnya.
Eddy menekankan bahwa model PIR berhasil melibatkan masyarakat sebagai plasma dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Hingga kini, luas perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta terus berkembang pesat, menjadikan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
"Kolaborasi petani dan korporasi adalah kunci keberhasilan kita," katanya. (TESTI PRISCILLA/j)









