BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Masih dalam rangkaian peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2025, RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas mengajak masyarakat untuk lebih memahami pentingnya imunisasi dan waspada terhadap hoaks yang banyak beredar di masyarakat.
Dalam kegiatan edukasi yang digelar Rabu, 30 April 2025 di ruang tunggu Poliklinik Anak, dr. Agung Hari Wibowo, Sp.A, mengungkap sejumlah tantangan yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia.
Berdasarkan data WHO tahun 2023, Indonesia termasuk enam besar negara dengan jumlah anak yang tidak menerima imunisasi dasar—mencapai lebih dari 1,3 juta anak pada periode 2019–2023.
“Banyak orang tua menolak imunisasi karena takut efek samping, tidak mengetahui jadwal, atau karena informasi yang salah,” katanya.
Survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar penolakan datang dari pengaruh keluarga, rasa takut, serta minimnya edukasi yang benar.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah meluncurkan program Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI), yang mendorong layanan imunisasi serentak di seluruh posyandu dan fasilitas kesehatan.
"Jadwal imunisasi lengkap pun terus disosialisasikan agar orang tua bisa memastikan anak-anak mereka mendapatkan perlindungan sejak dini," tuturnya.
Selain itu, dr. Agung menyampaikan peran penting media dalam membentuk persepsi masyarakat. Ia mengajak seluruh pihak, khususnya media massa dan sosial, untuk membantu menyebarkan informasi yang benar, meluruskan kesalahpahaman, serta memerangi hoaks tentang imunisasi yang kerap menjadi hambatan utama.
Tak hanya dari sisi kesehatan, imunisasi juga diperkuat secara keagamaan. Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2016 menegaskan bahwa imunisasi diperbolehkan (mubah) dalam Islam, bahkan bisa menjadi wajib jika dibutuhkan untuk mencegah penyakit berbahaya.
“Imunisasi bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tapi tanggung jawab bersama. Dengan dukungan orang tua, tokoh masyarakat, dan media, kita bisa wujudkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (DODI/H)









