SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sektor pertanian pangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini menghadapi tantangan serius berupa penurunan minat generasi muda serta ancaman alih fungsi lahan. 

Sehingga perlunya langkah konkret pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan, khususnya beras.

“Tantangan sektor pertanian, khususnya pangan, adalah semakin rendahnya minat generasi muda, terutama Gen-Z, untuk terjun ke dunia pertanian. Oleh karena itu, kami berharap Pemkab Kotim mampu menarik minat petani muda berbasis teknologi agar muncul petani-petani modern yang siap menopang target lumbung pangan nasional,” ujar Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kotim Akhyannoor, Kamis, 1 Mei 2025.

Ia menambahkan, selain penurunan minat, alih fungsi lahan pertanian juga menjadi persoalan mendesak yang harus segera diantisipasi. Langkah tegas diperlukan agar lahan produksi, khususnya lahan sawah, tetap terjaga dan tidak berubah fungsi menjadi non-pertanian.

“Sesuai dengan zonasi dalam RPJMD 2025-2029, Kalimantan Tengah ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional atau pusat swasembada pangan. Kabupaten Kotim masuk dalam zona barat yang memiliki tanggung jawab besar. Oleh karena itu, kami dari Fraksi Gerindra mengusulkan agar pemerintah daerah menetapkan target capaian pertanian yang jelas dan dapat dievaluasi setiap tahun,” tambahnya.

Gerindra menilai penguatan sektor pertanian sangat krusial, tidak hanya untuk kemandirian pangan daerah tetapi juga sebagai pilar ketahanan pangan nasional.

Melalui program yang tepat sasaran, seperti pelatihan dan pendampingan petani muda dengan teknologi pertanian modern, diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan produktif.

Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dan mempercepat kebijakan yang mendukung keberlanjutan pertanian, agar Kotim tetap menjadi bagian penting dari lumbung pangan nasional di masa depan. (DEWI/H)