SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengingatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi vertikal, dan seluruh jajaran Forkopimda untuk bersiap menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasa terjadi saat musim kemarau. Berdasarkan ramalan cuaca, musim kemarau diperkirakan akan mulai pada Juni mendatang.

“Kita semua, baik OPD, instansi vertikal, maupun Forkopimda, harus bersiap. Ketika musim kemarau tiba, karhutla selalu menjadi persoalan besar. Oleh karena itu, semua OPD terkait harus sudah merencanakan penanggulangan karhutla dari sekarang. Jika nanti diperlukan anggaran tambahan pada saat perubahan, itu sudah siap,” ujar Halikinnor, Sabtu, 3 Mei 2025.

Dirinya juga mengingatkan Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) untuk memastikan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) tersedia.

“BKAD jangan sampai tidak menyediakan dana BTT. Karena jika musibah kebakaran datang dan kita tidak memiliki anggaran, itu akan menjadi masalah besar. Kita harus memprioritaskan hal-hal yang sangat mendesak,” katanya.

Halikinnor menegaskan, kesiapsiagaan adalah kunci agar penanganan karhutla dapat dilakukan dengan cepat dan efektif demi meminimalkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan di Kotim.

--page

Adapun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) H Asan Kotawaringin Timur (Kotim) memprakirakan bahwa musim kemarau tahun 2025 akan berlangsung lebih pendek dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di wilayah Kotim akan berbeda-beda berdasarkan letak geografisnya.

“Wilayah selatan Kabupaten Kotim diperkirakan memasuki musim kemarau pada Juni Dasarian II, bagian tengah di Juni Dasarian III, dan wilayah utara pada Juli Dasarian I. Sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2025,” kata Mulyono, beberapa waktu lalu.

Meski musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih singkat dari tahun 2024, Mulyono mengingatkan bahwa potensi kekeringan dan kebakaran tetap tinggi.

“Tahun ini kemarau dalam kondisi netral atau normal, namun lebih kering dibanding tahun sebelumnya yang dipengaruhi La Nina yang terjadi kemarau basah. Artinya, risiko kebakaran hutan dan lahan tahun ini justru meningkat meski kemarau lebih pendek,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)