PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 1,32 persen pada April 2025, dengan indeks harga konsumen naik dari 111,01 pada April 2024 menjadi 112,48. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa subkelompok dengan inflasi tertinggi adalah minuman tidak beralkohol sebesar 6,41 persen, sedangkan makanan mencatatkan inflasi terendah sebesar 0,47 persen.

"Secara y-on-y, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,51 persen," kata Agnes pada Minggu, 4 Mei 2025.

Beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi dalam periode tersebut antara lain ikan gabus sebesar 0,29 persen, cabai rawit 0,23 persen, serta Sigaret Kretek Mesin atau SKM sebesar 0,17 persen. Selain itu, minyak goreng dan kopi bubuk masing-masing berkontribusi sebesar 0,12 persen, sementara komoditas lain seperti udang basah, terong, dan mie kering instan turut memberikan kontribusi lebih kecil.

Namun, di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang justru memberikan andil dalam deflasi. Daging ayam ras tercatat sebagai penyumbang deflasi terbesar dengan angka 0,63 persen, diikuti oleh tomat sebesar 0,18 persen, beras sebesar 0,08 persen, dan ikan nila sebesar 0,07 persen. Beberapa komoditas lain seperti telur ayam ras, susu bubuk untuk balita, pepaya, dan ikan papuyu masing-masing berkontribusi sebesar 0,02 persen terhadap deflasi.

Agnes juga menambahkan bahwa secara month-to-month atau m-to-m, kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,61 persen pada April 2025. Tarif listrik menjadi komoditas yang paling dominan dalam mendorong inflasi dengan kontribusi 0,60 persen. Selain itu, emas perhiasan sebesar 0,13 persen, ikan gabus, kangkung, dan bayam masing-masing 0,02 persen turut menyumbang kenaikan harga pada bulan tersebut.

Di sisi lain, beberapa komoditas juga memberikan andil terhadap deflasi secara bulanan. Daging ayam ras tetap menjadi penyumbang terbesar dengan deflasi 0,17 persen, diikuti oleh bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen, serta angkutan udara sebesar 0,03 persen. Beberapa komoditas lain seperti bensin, rampela hati ayam, cabai rawit, dan terong berkontribusi lebih kecil dalam penurunan harga.

Dengan tren ini, BPS Provinsi Kalimantan Tengah akan terus memantau perkembangan inflasi dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

"Kami akan terus berupaya menyediakan data yang akurat guna membantu pemangku kebijakan dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah," tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)