BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat bahwa kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 2,13 persen pada April 2025.
Kenaikan ini terjadi akibat peningkatan indeks dari 102,32 pada April 2024 menjadi 104,50 pada April 2025. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa meskipun inflasi tercatat, dampaknya terhadap inflasi keseluruhan masih relatif kecil.
Inflasi dalam kelompok ini terutama berasal dari subkelompok pakaian, yang mengalami peningkatan indeks sebesar 2,70 persen secara y-on-y. Sebaliknya, subkelompok alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen, mencerminkan penurunan harga di sejumlah komoditas alas kaki dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kenaikan harga terutama terjadi pada pakaian, sementara alas kaki justru menunjukkan penurunan harga," ujar Agnes Widiastuti pada Senin, 5 Mei 2025.
Kelompok pakaian dan alas kaki pada April 2025 memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,09 persen terhadap inflasi keseluruhan di Kalimantan Tengah. Komoditas yang dominan dalam mendorong inflasi kelompok ini di antaranya adalah baju muslim wanita, baju muslim anak, daster, baju anak stelan, ongkos binatu/laundry, baju muslim pria, celana panjang jeans pria, dan ongkos jahit, masing-masing menyumbang 0,01 persen terhadap inflasi.
Lebih lanjut, Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa meskipun kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi y-on-y, kontribusinya terhadap inflasi month-to-month atau m-to-m pada April 2025 tidak signifikan.
"Data menunjukkan bahwa pada bulan ini, kelompok pakaian dan alas kaki tidak memberikan dorongan besar terhadap pergerakan inflasi bulanan," katanya.
Menurut BPS Kalteng, faktor yang mendorong inflasi pada subkelompok pakaian adalah peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan dan tren konsumsi masyarakat. Sementara itu, penurunan harga alas kaki kemungkinan dipengaruhi oleh persaingan usaha dan promosi dari berbagai merek yang berusaha menarik perhatian konsumen.
Ke depan, BPS Kalimantan Tengah akan terus memantau pergerakan harga pada kelompok pakaian dan alas kaki, serta dampaknya terhadap inflasi daerah.
"Kami akan memastikan bahwa data yang kami sajikan dapat digunakan sebagai referensi bagi pemerintah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan ekonomi," pungkas Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)









