PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah mengamati performa varietas Simalungun di lapangan, peserta Teknis Kelapa Sawit atau TKS dan Field Trip Sampit 2025 yang diselenggarakan Media Perkebunan dan GAPKI Cabang Kalimantan Tengah ini melanjutkan kegiatan dengan demonstrasi langsung proses polinasi kelapa sawit. Demonstrasi ini dipandu oleh Kepala Seed Garden PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi atau GSIP, Dionisius Neing yang menjelaskan secara detail tahapan polinasi guna menghasilkan benih unggul berkualitas tinggi.

Dalam penjelasannya, Dionisius menggarisbawahi bahwa setiap polinator bertanggung jawab atas 60 pohon induk, sehingga proses penyerbukan dilakukan dengan sangat teliti untuk memastikan tidak ada kontaminasi genetik.

"Bunga betina dibersihkan, seludang penutupnya dibuka, lalu dibungkus dengan kantong khusus. Di bagian tangkainya kita beri kapas yang telah ditaburi insektisida agar tidak ada serangga yang masuk," terangnya seperti dalam rilis kepada Borneonews pada Senin, 5 Mei 2025.

Tahapan berikutnya adalah penyimpanan bunga hingga mekar dalam kurun waktu 10–15 hari, yang kemudian dilakukan penyerbukan menggunakan serbuk sari yang telah ditentukan. Dionisius menjelaskan bahwa tandan benih yang terbentuk dari proses ini akan dipanen setelah 150–160 hari, kemudian diproses menjadi kecambah sebagai tahap awal pengembangan tanaman.

Selain proses polinasi, peserta juga diperkenalkan dengan varietas benih kelapa sawit unggul hasil kerja sama PT Astra Agro Lestari Tbk dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit atau PPKS Medan, yaitu varietas DxP Simalungun. Varietas ini memiliki produktivitas Tandan Buah Segar atau TBS yang tinggi hingga 35 ton per hektar per tahun, dengan rendemen minyak mencapai 26,5 persen.

--page

Lalu Head of Seed Production PT Astra Agro Lestari Tbk, Firman Budiman memaparkan bahwa varietas DxP Simalungun telah menunjukkan performa unggul di lapangan.

"Umur TBM 3 bisa menghasilkan 9,63 ton TBS per hektar per tahun, TM 1 mencapai 17,52 ton, dan tahun lalu bisa mencapai 26,48 ton TBS/Ha/Tahun. Rendemennya sekitar 26,5% dan BJR-nya 9,6 kilogram," jelasnya.

Selain varietas Simalungun, PT Astra Agro Lestari Tbk juga mengembangkan tiga varietas lainnya, yaitu AAL Lestari, AAL Sejahtera, dan AAL Nirmala, yang memiliki produktivitas tinggi di atas 32 ton/Ha/tahun. Keunggulan lain dari varietas ini adalah laju pertumbuhan batang yang lebih lambat, sekitar 40–43 cm per tahun, sehingga meningkatkan efisiensi panen.

Antusiasme peserta semakin meningkat setelah mengetahui berbagai inovasi dalam pengembangan benih kelapa sawit. Mereka aktif berdiskusi mengenai tantangan dan prospek industri kelapa sawit, serta pentingnya penelitian dalam menciptakan varietas yang lebih unggul dan berkelanjutan.

Dengan semakin banyaknya inovasi yang diterapkan dalam bidang perbenihan dan penelitian, kunjungan ini semakin menegaskan pentingnya teknologi dan metode ilmiah dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas perkebunan kelapa sawit. Peserta kembali dari kunjungan dengan wawasan baru yang dapat diaplikasikan dalam industri kelapa sawit di masa depan. (TESTI PRISCILLA/y)