PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam rangkaian kegiatan Teknis Kelapa Sawit atau TKS 2025 yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Kalimantan Tengah dan Media Perkebunan, para peserta mendapat kesempatan untuk melihat langsung performa varietas unggul DxP Simalungun. Acara ini berlangsung di kebun PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi atau GSIP, Kalimantan Tengah, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi kelapa sawit nasional.

Varietas DxP Simalungun merupakan hasil kerja sama antara PT Astra Agro Lestari Tbk dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit atau PPKS Medan. Sejak 2008, penelitian dan pengembangan dilakukan guna menghasilkan benih unggul yang dapat meningkatkan produktivitas kebun sawit nasional.

Head of Seed Production Research and Development PT GSIP Firman Budiman mengungkapkan bahwa varietas ini telah ditanam di blok C3 GSIP dan menunjukkan performa yang sangat baik.

"Kami tidak hanya menjual benih tanpa bukti di lapangan. Varietas ini kini memasuki usia TM ke-3 dan menunjukkan hasil panen yang optimal," ujarnya dalam rilis yang diterima Borneonews pada Senin, 5 Mei 2025.

Menurut data lapangan, varietas DxP Simalungun mencatat produktivitas mencapai 9,63 ton/ha/tahun pada usia TBM 3, 17,52 ton/ha/tahun di TM 1, dan meningkat hingga 26,48 ton/ha/tahun di tahun berikutnya. Selain itu, rendemen minyak kelapa sawit mencapai sekitar 26,5 persen untuk CPO, sedangkan PKO mencapai 9,4 ton/ha/tahun. Bobot janjang rata-rata varietas ini sekitar 9,6 kg.

--page

Keunggulan utama DxP Simalungun adalah keseimbangan sex ratio bunga jantan dan betina yang berada di kisaran 65–70 persen. Dengan demikian, ketersediaan polen yang mencukupi di lapangan bisa mencegah kegagalan buah atau buah kempet, permasalahan umum pada varietas sawit dengan sex ratio yang tidak seimbang.

Firman juga menyoroti bahwa varietas ini tidak mengalami buah partenocarpi karena keberadaan bunga jantan yang cukup. Hal ini mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan biaya tambahan untuk metode artificial pollination (aspol) atau hatch and carry yang umumnya digunakan untuk menjaga polen tetap tersedia.

Dari sisi distribusi, PT GSIP menjamin kecepatan pengiriman benih. Dengan lokasi produksi di Kalimantan Tengah, pengiriman ke perkebunan di wilayah Kalimantan menjadi lebih efisien, memakan waktu hanya satu hingga dua bulan dari pemesanan hingga pengiriman.

"Keunggulan ini menjadikan DxP Simalungun sebagai salah satu pilihan utama bagi perusahaan perkebunan. Dengan dukungan teknis dan layanan purna jual yang prima, PT Astra Agro Lestari optimis benih ini dapat meningkatkan hasil kebun sawit nasional," katanya. (TESTI PRISCILLA/y)