BORNEONEWS, Palangka Raya - Palangka Raya menjadi wilayah dengan ketimpangan gender paling rendah di Kalimantan Tengah pada tahun 2024, menurut laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa daerah tersebut diikuti oleh Kabupaten Barito Timur dan Kotawaringin Barat dalam indeks ketimpangan gender yang lebih baik dibandingkan wilayah lainnya.
"Dari delapan kabupaten/kota yang dianalisis, Kabupaten Lamandau dan Kotawaringin Barat mencatat penurunan Indeks Ketimpangan Gender atau IKG paling signifikan, dengan Lamandau mengalami penurunan terbesar sebesar 0,055 poin," kata Agnes pada Selasa, 6 Mei 2025.
Tren ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kesetaraan gender di beberapa daerah, yang semakin mempersempit ketimpangan yang selama ini terjadi.
Dimensi Pemberdayaan Gender dalam laporan ini mencakup dua indikator utama, yaitu persentase penduduk usia 25 tahun ke atas yang memiliki pendidikan SMA ke atas dan persentase anggota legislatif berdasarkan jenis kelamin.
"Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, persentase penduduk laki-laki yang telah menyelesaikan pendidikan SMA ke atas mencapai 35,13 persen, mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen dibanding tahun sebelumnya," terangnya.
Sebaliknya, persentase penduduk perempuan dengan pendidikan setara mengalami penurunan sebesar 0,56 persen menjadi 30,30 persen.
Dalam dimensi politik, perwakilan perempuan di legislatif justru mengalami penurunan. Persentase anggota legislatif laki-laki meningkat sebesar 8,89 persen poin dari tahun sebelumnya, mencapai angka 80 persen pada 2024. Sementara itu, persentase anggota legislatif perempuan menurun menjadi 20 persen, menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di ranah politik masih menghadapi tantangan.
"Walaupun masih terdapat ketimpangan di beberapa sektor, secara umum kondisi gender di Kalimantan Tengah telah mengalami perbaikan dalam tujuh tahun terakhir," katanya.
Sejak tahun 2018 hingga 2024, Indeks Ketimpangan Gender di provinsi ini menurun sebesar 0,016 poin, atau rata-rata 0,003 poin per tahun. Penurunan ini menjadi indikator positif bahwa kesenjangan gender semakin menyempit, meskipun masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk mencapai kesetaraan yang ideal.
"Namun demikian, masih terdapat 6 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan ketimpangan gender. Kenaikan tertinggi tercatat di Kabupaten Murung Raya, yang mengalami peningkatan nilai IKG sebesar 0,021 poin, diikuti oleh Kabupaten Sukamara," tutur Agnes lagi. (TESTI PRISCILLA/j)









