PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada April 2025, kelompok transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami deflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 2,08 persen. Hal ini tercermin dari penurunan indeks harga konsumen atau IHK dari 112,28 pada April 2024 menjadi 109,94 pada April 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga di beberapa subkelompok transportasi.

"Dari empat subkelompok yang ada dalam kelompok transportasi, satu subkelompok mencatat deflasi y-on-y, sedangkan tiga lainnya mengalami inflasi y-on-y," kata Agnes pada Jumat, 9 Mei 2025.
Subkelompok yang mengalami deflasi adalah jasa angkutan penumpang, yang tercatat mengalami penurunan harga cukup signifikan sebesar 19,40 persen.

Sementara itu, inflasi terjadi pada subkelompok pembelian kendaraan sebesar 3,10 persen, pengoperasian peralatan transportasi pribadi sebesar 0,39 persen, dan jasa pengiriman barang sebesar 0,64 persen.

Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa kelompok transportasi pada April 2025 memberikan andil deflasi y-on-y sebesar 0,20 persen terhadap inflasi umum di Kalimantan Tengah.

"Beberapa komoditas yang dominan menyumbang deflasi y-on-y antara lain angkutan udara sebesar 0,27 persen, bensin sebesar 0,05 persen, dan solar sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi y-on-y mencakup pemeliharaan atau servis kendaraan, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen," terangnya.

Selain pengaruh inflasi tahunan, kelompok transportasi juga mencatat deflasi month-to-month atau m-to-m pada April 2025 dengan andil sebesar 0,05 persen. Deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga angkutan udara sebesar 0,03 persen, bensin sebesar 0,02 persen, dan solar sebesar 0,01 persen. Hal ini menunjukkan bahwa faktor harga bahan bakar dan tarif angkutan memiliki peran penting dalam dinamika kelompok transportasi.

Menurut BPS, tren deflasi pada kelompok transportasi ini perlu dicermati lebih lanjut, terutama terkait dengan kebijakan harga bahan bakar serta layanan transportasi publik.

"Kami akan terus memantau pergerakan harga di sektor transportasi guna melihat apakah tren ini berlanjut atau terjadi perubahan seiring dengan perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah," ujar Agnes Widiastuti.

Dengan kondisi ini, masyarakat dan pelaku usaha di sektor transportasi diharapkan dapat menyesuaikan strategi mereka dalam menghadapi dinamika harga yang terjadi. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan kebijakan yang mendukung stabilitas harga, terutama dalam aspek bahan bakar dan layanan transportasi yang menjadi faktor utama dalam pergerakan inflasi maupun deflasi di sektor ini. (TESTI PRISCILLA/H)