BORNEONEWS, Tamiang Layang – Sebuah rumah milik warga Desa Lalap, Kecamatan Patangkep Tutui, Kabupaten Barito Timur, rusak tertimpa pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah tersebut pada Jumat dini hari, 9 Mei 2025.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 04.15 WIB di RT 02 Desa Lalap. Rumah yang menjadi korban milik Urtianti (50), seorang ibu rumah tangga. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp35 juta.
“Pohon besar di samping rumah roboh karena angin sangat kencang. Akibatnya, atap rumah jebol, empat lemari rusak, dan sejumlah peralatan dapur hancur,” ungkap Kepala Desa Lalap, Hendri, saat dikonfirmasi.
Pemerintah desa pun segera mengambil langkah cepat untuk meringankan beban korban. Selain menggerakkan warga untuk bergotong royong menyingkirkan batang pohon yang menimpa rumah, pemerintah desa juga menyerahkan bantuan dana sebesar Rp4,6 juta yang bersumber dari pos anggaran penanggulangan bencana alam.
“Bantuan ini bentuk kepedulian kami agar Bu Urtianti bisa segera memperbaiki rumahnya. Kami juga mengimbau warga agar lebih waspada, terutama di musim peralihan seperti sekarang,” tambah Hendri.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Sanggu, Eko Bambang Winarto, menjelaskan bahwa hujan lebat dan angin kencang yang terjadi di Barito Timur dipicu oleh kondisi atmosfer yang sangat lembap dan labil.
--page
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-8 dan radar cuaca Palangka Raya, ditemukan akumulasi kelembapan tinggi di berbagai lapisan atmosfer. Di lapisan 850 mb, kelembapan mencapai 90%-100%, dan di lapisan 700 hingga 500 mb sekitar 80%-90%,” jelas Eko.
Ia menambahkan bahwa indeks labilitas atmosfer seperti K-Index mencapai angka 35, Lifted Index bernilai -3, dan Showalter Stability Index berada di angka 1. “Ini menunjukkan potensi besar terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang,” tegasnya.
Awan Cumulonimbus yang menjadi pemicu utama tumbuh sekitar pukul 02.00 WIB di barat daya Barito Timur dan mencapai puncak intensitas pada pukul 04.10 WIB, tepat sebelum pohon tumbang terjadi. Kecepatan angin tercatat mencapai 45 knots atau sekitar 83 kilometer per jam dari arah selatan.
“Kondisi ini sangat berkaitan dengan masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, yang biasanya ditandai cuaca ekstrem secara tiba-tiba,” terang Eko.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bahaya pohon tumbang, genangan air, dan sambaran petir.
“Jangan berteduh di bawah pohon besar saat hujan dan selalu perhatikan informasi cuaca terkini,” pungkas Eko Bambang Winarto. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









