BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok Kerja atau Pokja Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca atau GRK Provinsi Sumatera Utara melakukan kunjungan lapangan ke Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH Wilayah XII Tarutung sebagai bagian dari upaya meninjau implementasi program REDD+ berbasis komunitas.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Kepala KPH Wilayah XII Tarutung, Adri S Sihotang, yang memaparkan kondisi hutan di wilayah tersebut serta berbagai langkah yang telah dilakukan dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan. Pokja didampingi oleh tenaga ahli REDD+ Sumut, Dr Solichin Manuri dan Sarah Agustiorini, serta akademisi dari Universitas Sumatera Utara, yakni Prof Rahmawaty dan Dr Bejo Slamet.
Dalam pertemuan tersebut, Adri Sihotang menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal dalam menjaga keseimbangan ekologi serta menekan laju deforestasi.
"Kegiatan REDD+ menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus merusak hutan," ujarnya dalam rilis yang diterima Borneonews pada Minggu, 11 Mei 2025.
Tim Pokja mendapat kesempatan mengamati berbagai program konservasi yang telah diterapkan oleh KPH Tarutung, termasuk sistem agroforestry yang mengintegrasikan tanaman bernilai ekonomi tinggi dengan upaya pelestarian hutan.
"Kunjungan ini juga menjadi forum diskusi mengenai pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat. Beberapa tantangan yang dihadapi, seperti fluktuasi harga hasil hutan non-kayu dan keterbatasan akses pasar bagi produk lokal, turut menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan tersebut," kata Prof Rahmawaty.
Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia arah PETAI turut berperan dalam memfasilitasi kunjungan ini. Masrizal, selaku Direktur PETAI, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat sekaligus menekan emisi karbon secara signifikan.
"Melalui kunjungan ini, Pokja berharap dapat memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait guna memastikan program penurunan emisi GRK di Sumut dapat berjalan efektif dan berkelanjutan," kata Prof Rahmawaty. (TESTI PRISCILLA/H)









