SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) mendukung normalisasi saluran irigasi di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, sebagai bagian dari strategi peningkatan ketahanan pangan nasional.

Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannoor mengatakan, kendala utama pertanian di wilayah selatan Kotim adalah banjir yang disebabkan oleh tersumbatnya aliran irigasi, terutama di kawasan hutan lindung bakau yang belum dibebaskan.

“Kami akan bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan pusat untuk menyelesaikan persoalan hutan lindung ini, agar saluran irigasi tidak lagi menyebabkan banjir. Banyak petani terganggu karena air malah datang menyebabkan banjir jelang panen,” kata Akhyannoor, Senin, 12 Mei 2025.

Ia menyebutkan, aliran sungai kecil yang bermuara ke laut kini tersumbat sehingga air tidak mengalir dengan baik. Berdasarkan pantauan satelit, genangan air tetap menetap karena tidak ada jalur keluar.

“Kendala masyarakat petani kita khususnya di wilayah selatan adalah infrastruktur jalan, irigasi, dan ketersediaan pupuk. Kalau itu semua terpenuhi dan berjalan baik, pertanian pasti akan berhasil,” tambahnya.

Sebelumnya, Bupati Kotim Halikinnor juga menyoroti pentingnya normalisasi irigasi dalam mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan oleh Presiden RI. Dalam rapat koordinasi yang digelar pada 16 April 2025 di rumah jabatan bupati, bersama unsur Forkopimda dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II, disepakati bahwa normalisasi akan dilakukan di dua titik dengan anggaran mencapai Rp9 miliar.

Kendala terbesar terletak pada lokasi irigasi yang masuk kawasan hutan lindung dan Area Penggunaan Lain (APL), sehingga dibutuhkan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk penyelesaian administratif.

“Normalisasi irigasi bukan hanya untuk mendukung pertanian, tapi juga mempermudah akses transportasi masyarakat yang bergantung pada jalur sungai,” ujar Halikinnor.

Kotim sendiri saat ini tercatat sebagai kabupaten dengan luas tanam padi terbesar ketiga di Kalimantan Tengah, dan diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas pertanian melalui pembangunan infrastruktur irigasi yang memadai. (DEWI PATMALASARI/H)