BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan bahwa perekonomian daerah ini pada triwulan I-2025 mengalami kontraksi sebesar 6,57 persen dibandingkan triwulan IV-2024 atau q-to-q. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa penurunan ini mencerminkan adanya berbagai dinamika ekonomi yang mempengaruhi kinerja sektor-sektor utama.
Dari sisi produksi, sektor Industri Pengolahan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 6,66 persen.
“Industri pengolahan menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi, didorong oleh meningkatnya aktivitas manufaktur dan pengolahan sumber daya lokal,” kata Agnes pada Selasa, 13 Mei 2025.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, lanjut Agnes, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,91 persen. Peningkatan ekspor ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, terutama dalam perdagangan komoditas utama daerah.
Agnes menambahkan bahwa meskipun terjadi kontraksi secara keseluruhan, pertumbuhan di beberapa sektor menunjukkan potensi pemulihan ekonomi dalam triwulan berikutnya.
“Kami melihat bahwa sektor industri dan ekspor masih memiliki peluang untuk terus berkembang, yang diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi dalam jangka menengah,” katanya.
BPS Kalteng terus memantau perkembangan ekonomi di wilayah ini dan berharap langkah-langkah strategis dapat diterapkan oleh berbagai pihak untuk menstabilkan ekonomi daerah. Dengan adanya data yang lebih komprehensif, diharapkan dapat diambil kebijakan yang tepat guna mengatasi perlambatan ekonomi saat ini.
Ke depan, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga daya saing ekonomi Kalimantan Tengah.
"Kami berharap adanya kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor-sektor yang telah menunjukkan peningkatan agar perekonomian daerah dapat kembali tumbuh positif," tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)









