PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ekspor produk minyak sawit mengalami tren penurunan selama lima tahun terakhir dengan rata-rata penurunan sebesar 4,5 persen. Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengungkapkan bahwa penurunan ini tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga berdampak di Kalimantan Tengah dan Bumi Tambun Bungai.

"Menurut data dari GAPKI Pusat, ekspor produk olahan minyak sawit turut terdampak. Olahan Palm Oil atau PO mengalami penurunan hingga 9 persen, sementara olahan Palm Kernel Oil atau PKO turun 1,1 persen," kata Rawing pada Selasa, 13 Mei 2025.

Sementara itu, lanjut Rawing, ekspor Crude Palm Oil atau CPO pada tahun 2024 hanya mencapai 2,9 juta ton, atau sekitar 9,9 persen dari total ekspor produk kelapa sawit.

Dosen Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini menjelaskan bahwa estimasi ekspor tahun 2025 diperkirakan mencapai 27,5 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan ekspor tahun 2024 yang mencapai 29,5 juta ton.

"Tren penurunan ekspor minyak sawit sudah terjadi sejak 2017 dan terus berlanjut hingga kini," ujarnya.

Meski volume ekspor menurun, prospek permintaan Tandan Buah Segar atau TBS dan CPO di pasar global pada tahun 2024 dan sepanjang 2025 diperkirakan akan bertambah hingga 2,5 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa industri minyak sawit masih memiliki peluang untuk meningkatkan penjualan meskipun ekspor mengalami penurunan.

"Dari sisi produksi, tahun 2024 mencatat angka yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Produksi CPO mengalami penurunan dari 50,07 juta ton menjadi 48,16 juta ton," terang Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini lagi.

Sebaliknya, konsumsi dalam negeri meningkat dari 23,21 juta ton menjadi 23,9 juta ton, menunjukkan adanya peningkatan penggunaan minyak sawit di dalam negeri.

Selain itu, volume ekspor juga mencatat penurunan dari 32,21 juta ton menjadi 29,53 juta ton. Dampaknya, nilai ekspor turut turun dari US$ 30,32 miliar menjadi US$ 27,75 miliar.

"Penurunan nilai ekspor ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri kelapa sawit nasional untuk mempertahankan daya saing di pasar global," tutur Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan ini.

Rawing Rambang menegaskan bahwa industri minyak sawit perlu terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan kebijakan internasional agar mampu menghadapi tantangan ke depan.

"Kami berharap adanya strategi yang tepat untuk meningkatkan ekspor dan menjaga keseimbangan industri ini dalam menghadapi dinamika global," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/j)