BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP gabungan di Kalimantan Tengah pada April 2025 tercatat mengalami penurunan sebesar 1,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, NTP gabungan turun dari 135,52 pada Maret 2025 menjadi 134,15 pada April 2025.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya indeks harga hasil produksi pertanian atau It. Sebaliknya, indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani atau Ib justru mengalami kenaikan, yang didorong oleh peningkatan pada dua komponen utama, yaitu indeks konsumsi rumah tangga petani atau KRT dan indeks kelompok biaya produksi dan biaya pemasaran atau BPPBM.
"Penurunan nilai tukar petani ini menunjukkan tekanan yang dihadapi petani dalam memperoleh keuntungan dari hasil produksinya, sementara biaya konsumsi dan produksi mereka terus meningkat," ujar Agnes Widiastuti pada Selasa, 13 Mei 2025.
Dari sisi subsektor, penurunan NTP paling signifikan terjadi pada subsektor peternakan, yang mengalami penurunan sebesar 1,46 persen. Selain itu, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 1,26 persen, hortikultura turun 0,33 persen, dan tanaman pangan mengalami penurunan 0,27 persen.
"Penurunan NTP di beberapa subsektor mencerminkan tantangan yang dihadapi para petani dan peternak di Kalimantan Tengah. Ia menekankan perlunya langkah strategis untuk meningkatkan daya saing hasil pertanian serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani," katanya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil kebijakan yang mendukung petani, baik melalui stabilisasi harga maupun bantuan dalam bentuk subsidi atau pelatihan peningkatan produktivitas.
"Perhatian terhadap kesejahteraan petani sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi lokal," pungkas Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)









