BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalimantan Tengah mencatatkan Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT terendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Kalimantan, yakni sebesar 3,47 persen. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa angka ini menunjukkan peningkatan kondisi ketenagakerjaan di provinsi tersebut.
“Penurunan tingkat pengangguran ini menandakan bahwa lebih banyak penduduk yang berhasil terserap ke dalam lapangan pekerjaan,” ujarnya pada Rabu, 14 Mei 2025.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan, Kalimantan Timur memiliki nilai TPT tertinggi, mencapai 5,33 persen. Agnes menambahkan bahwa perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk struktur ekonomi daerah dan tingkat investasi dalam berbagai sektor.
“Kalimantan Timur memiliki industri yang sangat dinamis, tetapi juga menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja,” kata Agnes.
Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di Kalimantan Tengah juga menjadi faktor utama dalam penurunan angka pengangguran. BPS mencatat bahwa jumlah penduduk yang bekerja mencapai 1,44 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kami melihat adanya peningkatan signifikan dalam sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan,” jelas Agnes.
Agnes menyebutkan bahwa kondisi ini mencerminkan kebijakan pemerintah daerah yang berhasil dalam meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat.
“Program-program peningkatan keterampilan dan pendidikan vokasi sangat berpengaruh terhadap penurunan angka pengangguran,” katanya.
Ia berharap tren positif ini dapat terus berlanjut dengan dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan akademisi.
Ke depan, BPS Kalimantan Tengah akan terus memantau perkembangan ketenagakerjaan guna memastikan stabilitas di sektor tenaga kerja. Agnes menegaskan bahwa upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan memperluas kesempatan kerja akan tetap menjadi fokus utama pemerintah.
“Kami akan terus bekerja sama dengan berbagai instansi untuk menciptakan kondisi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)









